Permainan Tan-Pangantanan dalam Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Permainan Tan-Pangantanan dalam Masyarakat Madura

Unzilatur Rahmah
Kamis, 08 November 2018

Ilustrasi
Permainan tradisional merupakan salah satu kekayaan daerah di Indonesia. Salah satunya ialah permainan tan-pangantanan. Dalam istilah bahasa Indonesia ialah permainan mantenan.

Permainan ini dapat kita temukan di beberapa daerah di Madura pada jaman dulu. Anak-anak bermain peran sebagai manten atau mempelai pernikahan.

Di Pamekasan, permainan tan-pangantan cukup sederhana. Dimana permainan terdiri dari 3 orang anak atau lebih. Dua orang anak dirias seadanya. Usai dirias, kedua anak tersebut (terdiri dari anak laki-laki dan perempuan) kemudian didudukkan beriringan.

Anak yang lain kemudian menaburi bunga di atas kepalanya. Bunga bisa diganti dedaunan yang berukuran kecil. Setelah tabur bunga selesai, proses permainan tan-pangantanan pun selesai.

Namun di momen tertentu, tan-pangantanan menjadi sebuah permainan yang cukup seru. Semisal di daerah Sumenep, atau Madura bagian timur. Riasan calon pengantin terdiri dari ramuan kunyit dan kunyit putih. 

Disalurkan ke seluruh tubuh anak sehingga menciptakan warna kuning.
Pakaian terdiri dari kain panjang yang dililitkan ke tubuh sebatas dada. Kepala dihias dengan mahkota yang terbuat dari daun nangka.

Dilengkapi dengan hiasan rumbai bunga melati layaknya pengantin sungguhan. Sedangkan untuk pengantin laki-laki dikalungi bunga melati.

Selanjutnya pasangan anak-anak tersebut dipertemukan dan diarak keliling kampung. 

Anak-anak dan orang dewasa menyaksikan permainan tersebut dari pinggir jalan. Sebagian anak bahkan mengikuti dari belakang. Yang membuat arakan semakin panjang.

Sambil diarak, tan-pangantanan diiringi dengan lagu tradisional Madura; Dhe’ Nong Dhe’ Né’ Nang.

Berbeda lagi dengan permainan tan-pangantanan saat ini. Pada momen tertentu seperti karnaval haflatul imtihan, karnaval hari kemerdekaan, sebagian anak dirias menyerupai pengantin.

Kebiasaan semacam ini dikoordinir oleh lembaga sekolah. Beberapa sekolah bahkan menyediakan penyewaan pakaian dan aksesorisnya. 

Berkerjasama dengan bridal setempat.
Tujuannya untuk menghibur para siswa yang masih anak-anak dan menyajikan hiburan bagi masyarakat. 

Serta menarik minat masyarakat agar mau memilih lembaga tersebut untuk menyekolahkan anaknya.