Kebiasaan Mapar Ghighi pada Sebagian Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Kebiasaan Mapar Ghighi pada Sebagian Masyarakat Madura

Unzilatur Rahmah
Kamis, 08 November 2018

Ilustrasi
Istilah mapar ghighi hanya dikenal pada masyarakat Madura. Dimana, mapar ghighi merupakan salah satu ritual adat yang terdapat di Sumenep, tepatnya di Desa Panagan, Kecamatan Gapura. Desa ini menuju ke arah tenggara dari Kota Sumenep.

Secara sederhana, mapar ghighi merupakan ritual meratakan gigi. Khususnya bagi calon pengantin perempuan di daerah tersebut.

Tujuan ritual ini tiada lain agar calon mempelai perempuan terlihat lebih cantik saat pernikahan nanti. Khususnya lebih menarik di mata mempelai laki-laki.

Selain agar terlihat lebih menarik, tujuan ritual merapikan gigi ini untuk membuang sangkal (Sial). Agar setelah menikah, tidak ada lagi sial yang mungkin bisa menggoncang keharmonisan rumah tangga.

Peralatan dan Persiapan Ritual
Semua tahapan upacara mapar ghighi dipimpin oleh ahli papar ghighi. Ketika melaksanakan ritual, ahli mapar dibantu oleh ahli macapat dan tukang teges.

Ahli macapat dan tukang teges yang akan membacakan kidungan ketika prosesi mapar ghighi berlangsung.

Sedangkan pihak yang juga terlibat dalam pelaksanaan upacara ialah keluarga gadis yang akan dipapar giginya, calon suami si gadis beserta kerabatnya, beberapa orang gadis yang nantinya akan bertugas mengitari sang gadis saat dupa dibakar.

Ditambah seniman saronen atau hadrah. Saronen atau hadrah ini akan mengiringi calon pengantin saat melakukan kirab.

Peralatan dan perlengkapan yang harus dipersiapkan dalam upacara mapar ghighi dibagi menjadi tiga.

Yaitu peralatan atau perlengkapan yang dipersiapkan oleh pihak calon mempelai perempuan, calon mempelai laki-laki dan oleh ahli papar ghighi.

Peralatan dan perlengkapan yang disediakan oleh pihak keluarga calon mempelai perempuan antara lain beraneka macam jajanan pasar. Jajanan pasar ini nantinya akan disuguhkan kepada para tamu.

Perlengkapan lainnya ialah rampatan (sesajen), kelapa gading, telur ayam, air kembang, nasi kuning, dan dhâmar kambhâng (lampu minyak kelapa).

Peralatan dan perlengkapan yang dipersiapkan oleh pihak calon mempelai laki-laki antara lain bân-ghibân atau barang-barang bawaan. Berupa bermacam-macam kue, alat-alat rias, dan lain sebagainya yang ditaruh dalam sebuah kotak besar berukir (judâng).

Terakhir, peralatan yang disediakan oleh ahli papar gigi berupa batu asah, pisau yang menyerupai kikir, dan batu pengganjal.

Prosesi Ritual Mapar Ghighi
Waktu pelaksanaan upacara mapar ghighi disepakati terlebih dahulu. Selanjutnya pihak calon mempelai pria menuju ke rumah calon mempelai wanita dalam sebuah arak-arakan sambil membawa judâng, ténong, dan lain sebagainya.

Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah calon mempelai wanita tersebut, arakan diiringi oleh lantunan kesenian tradisional Saronén atau Hadrah.

Sembari menunggu kedatangan calon mempelai pria, kerabat calon mempelai wanita mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapan yang nantinya akan digunakan ketika prosesi adat mapar ghighi berlangsung.

Pihak calon mempelai wanita juga bertugas mengundang ahli papar ghighi untuk memimpin upacara. Serta tiga orang lagi yang bertugas membaca tembang macapat beserta tukang tegesnya.

Setelah rombongan calon mempelai pria datang, prosesi mapar ghighi pun bisa dimulai. Dengan menggunakan peralatan berupa batu asah, pisau berbentuk kikir, dan batu pengganjal sang ahli mapar mulai meratakan gigi sang gadis.

Sisa-sisa gigi hasil mapar lalu dikumpulkan dalam sebuah kain untuk dibuang di sebuah persimpangan jalan. Persimpangan jalan tersebut disebut padângdâng.

Selama proses mapar ghighi berlangsung, tukang macapat membacakan kidung-kidung dari sebuah kitab kuno berhuruf Jawa. Kitab tersebut berisi hikayat Nabi Yusuf.

Untuk memperjelas makna yang terkandung dalam kitab tersebut, tukang teges menerjemahkan kidung ke dalam bahasa Madura.

Seiring dengan pembacaan kidungan, juga membakar dupa di dekat sang gadis sambil dikitari oleh beberapa orang gadis lainnya.

Selesai mapar ghighi, dilanjutkan dengan prosesi paras; yaitu membersihkan atau atau mencukur rambut halus disekitar dahi dan tengkuk sang gadis.

Selanjutnya, potongan-potongan rambut halus itu dikumpulkan untuk dibawa bersama sisa-sisa potongan gigi dalam sebuah arak-arakan menuju ke perempatan jalan (padângdâng) yang letaknya tidak jauh dari rumah sang gadis.

Arak-arakan membuang rambut halus ini tetap dipimpin ahli mapar gigi. Diikuti oleh tukang macapat, tukang teges, kerabat calon mempelai wanita, kerabat calon mempelai pria, para tetangga terdekat. Juga diiringi lantunan musik dari para seniman Saronén atau hadrah.

Tiba di persimpangan jalan, ahli mapar ghighi mulai membaca doa-doa. Lalu membuang rambut halus dan sisa potongan gigi sebagai simbol pembuangan segala macam sangkal pada diri sang gadis.

Dengan harapan agar kehidupan baru bersama suaminya nanti selamat hingga akhir hayat.

Pembuangan rambut dan sisa gigi ini merupakan akhir dari rangkaian upacara mapar ghighi.

Bila di Gapura, Sumenep, mapar ghighi merupakan satu ritual penting, berbeda lagi dengan di daerah lain di Madura. Sebagian besar masyarakat Madura mengenal istilah mapar ghighi.

Tetapi untuk meratakan gigi, tidak membutuhkan ritual khusus. Yang penting ada keinginan saja.

Dalam tradisi ini, meratakan gigi ialah dengan cara mengikir bagian depan gigi hingga rata. Sedangkan dalam upaya meratakan gigi di era modern, dilakukan dengan cara memasang kawat gigi.

Semuanya tentu memiliki resiko masing-masing.

Ditulis ulang dari wikipedia