Ritual Nyadar, Tradisi Masyarakat Sumenep

Advertisement

Ads

Ritual Nyadar, Tradisi Masyarakat Sumenep

Unzilatur Rahmah
Minggu, 07 Oktober 2018

Ritual Nyadar di Sumenep, Madura
Nyadar merupakan salah satu ritual jenis tradisi yang dilaksanakan masyarakat pinggir pantai. Tepatnya di daerah Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kec. Saronggi Sumenep dan Desa Pinggir Papas Kec. Kalianget.

Masyarakat daerah Pinggir Papas dan Desa Kebun Dadap melaksanakan ritual nyadar ini sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas karunianya berupa garam. Dimana masyarakat daerah ini rata-rata memiliki mata pencaharian sebagai petani garam.
Sebagai salah satu kekayaan tradisi di Madura, ritual nyadar tentu memiliki sejarah. Ia juga menjadi salah satu kekayaan tradisi yang patut dibanggakan.

Sejarah Ritual Nyadar
Ritual Nyadar pertama kali dilakukan oleh Pangeran Anggasuto. Pangeran Anggasuto merupakan tokoh masyarakat yang menyelamatkan orang-orang Bali yang terdesak karena kalah perang melawan Pasukan Karaton Sumenep.

Menurut cerita masyarakat setempat, pada suatu malam melakukan Pangeran Anggasuto melakukan Istikharah. Meminta petunjuk kepada Tuhan, melihat betapa gersangnya daerah tempat pelariannya tersebut. Bila dirinya ditakdirkan hidup di daerah tersebut, ia memohon petunjuk tentang apa yang bisa dijadikannya sebagai sumber hidup atau mata pencaharian.

Daerah tersebut merupakan daerah pesisir pantai. Dapat dibayangkan bagaimana kondisinya saat itu. Konon, Tuhan mengabulkan permohonan Pangeran Anggasuto dan memberinya petunjuk.
Dengan petunjuk Tuhan, Pangeran Anggasuto berjalan menuju pesisir pantai. Tanah di pantai tersebut begitu lembek, hingga membentuk tapak kaki ketika diinjak. Beberapa saat berikutnya, bekas tapak kaki tersebut terisi air laut.

Beberapa hari kemudian, dengan petunjuk Tuhan pula, Pangeran Anggasuto kembali berjalan ke arah pantai. Dia memperhatikan terdapat sesuatu di bekas tapak kakinya itu. Bekas tapak kaki tersebut dipenuhi benda yang berwarna putih. Pangeran Anggasuto pun bertanya-tanya dalam hati. Apa kiranya benda putih itu? Adakah benda putih itu adalah madduna sagârâ (Madunya Samudra, red)?

Lantas benda itu kemudian oleh Pangeran Anggasuto disebut dengan Bujâ. Bujâ merupakan istilah bahasa Madura untuk garam. Hingga sekarang, benda itu disebut bujâ atau garam. Menurut cerita masyarakat setempat, kisah itu tersiar ke segala penjuru daerah.

Pangeran Anggasuto pun mempelajari cara membuat garam secara otodidak. Seiring berjalannya waktu, orang-orang di daerah Pinggirpapas masa itu mempelajari bagaimana memetak tanah untuk ladang garam. Mereka belajar dengan dibimbing Pangeran Anggasuto. Mereka juga cara memindah-mindah air dari laut kebulatan pegaraman.

Kemudian daerah itu disebut dengan padaran. Sekarang dikenal dengan talangan. Maka jadilah daerah tersebut dengan hamparan luas ladang pegaraman. Dimana mayoritas masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani garam.
Konon setelah garam-garam itu menunjukkan hasil, Anggasuto tidak lupa pada sang pemberi rejeki. Dia bernadzar.

Setiap jatuh pada bulan dan tanggal panas matahari (masuk musim kemarau) akan melakukan Nyadar. Sebagai bentuk syukur atas anugerah yang Tuhan berikan. Maka itu menjadi muasal dilakukannya upacara Nyadar pertama.

Seiring waktu, Kabasa yang merupakan aduk Pangeran Anggasuto juga melakukan nadzar yang sama. Kemudian menjadi muasal upacara Nyadar yang kedua. Waktunya satu bulan setelah Nyadar pertama dilaksanakan. Upacara Nyadar ketiga merupakan nadzar dari Dukun. Menurut Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep, Syeh Dukun ialah pembantu Pangeran Anggasuto yang berasal dari Banten.

Seiring perputaran waktu, temuannya Pangeran Anggasuto ternyata bermanfaat bagi seluruh manusia di penjuru dunia. Pola mata pencaharian sebagai petani garam lalu dilakukan pula oleh beberapa masyarakat di daerah lain, seperti di Bali dan Sumatera.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Ritual Nyadar dilaksanakan berdasarkan musyawarah tokoh adat. Tokoh tersebut merupakan keturunan langsung dari Pangeran Anggasuto.

Ritual Nyadar umumnya dilaksanakan pada musim kemarau. Dengan jadwal Nyadar Pertama pada bulan Juli, Nyadar Kedua bulan Agustus, dan Nyadar Ketiga bulan September. Untuk penetapan tanggal tetap berdasarkan hasil musyawarah pemuka adat.

Mengenai tempat atau lokasi, ritual Nyadar dilaksanakan di makam Pangeran Anggasuto. Tepatnya di Dusun Kolla, Desa Kebun Dadap Barat, Kecamatan Saronggi. Itu untuk Nyadar pertama dan kedua.
Sedangkan untuk Nyadar ketiga, dilaksanakan di rumah warga yang ingin mengadakan acara ritual Nyadar. Tentu dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Diantaranya, pelaksanaan ritual tidak boleh diadakan sebelum tanggal 12 Maulid. Tasyakuran yang diadakan warga tidak boleh melebihi besarnya selamatan yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan syarat terakhir, peserta upacara Nyadar harus merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW terlebih dahulu.

Hal Yang Perlu Dipersiapkan
Sebelum upacara nyadar dilaksanakan, para sesepuh desa akan berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan upacara nyadar. Terutama benda-benda pusaka yang akan digunakan dalam upacara nyadar.

Benda-benda pusaka tersebut hanya dikeluarkan ketika pelaksanaan ritual Nyadar. Sebelum digunakan, benda pusaka tersebut dibersihkan dan dibuatkan sesajen. Beberapa sesepuh melakukan puasa agar upacara berjalan dengan lancar.

Peralatan serta perlengkapan yang digunakan antara prosesi upacara nyadar pertama dan kedua, sedikit berbeda dengan Nyadar ketiga. Untuk upacara nyadar pertama dan kedua, perlengkapan yang digunakan adalah bunga, bedak serta kemenyan. Ditambah nasi dengan lauk ayam, telur, serta bandeng.

Saat nyadar ketiga peralatan upacara lebih kompleks lagi. Ada alat yang disebut panjang.  Yakni piring keramik asing. Panjang dipergunakan sebagai wadah makanan. Makanan yang harus diletakkan di atas panjang yaitu nasi, telur, dan bandeng. Piring keramik yang disebut panjang harus piring yang diwariskan secara turun-temurun. Piring ini dianggap sakral oleh setiap anggota keluarga.

Dianggap tabu bila dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, kecuali untuk upacara Nyadar. Ada semacam kepercayaan, bahwa anggota keluarga yang berani mengeluarkan panjang atau menjualnya, akan mendapat celaka.

Peralatan ritual lain yang tidak kalah penting ialah naskah-naskah kuno. Naskah-naskah ini mereka sebut sebagai naskah sakral. Usianya sudah ratusan tahun. Naskah kuno ini pun hanya dikeluarkan dan digunakan satu tahun sekali. Yakni pada rangkaian acara pembacaan naskah dalam ritual Nyadar ketiga.

Pembacaan naskah secara rutin dilakukan di bekas kediaman leluhur, Pangeran Anggasuto. Naskah-naskah tersebut adalah Naskah Sampurna Sembah dan Naskah Jatiswara. Pada saat ritual, hanya bagian tertentu saja yang dibacakan. yaitu bagian yang isinya berupa ajaran-ajaran Islam. Sehingga dapat dijadikan panutan dan pembelajaran dalam hidup sehari-hari.

Peralatan lain yang digunakan dalam ritual adalah tombak dan keris. Juga hanya dikeluarkan pada saat upacara Nyadar ketiga. Menurut mereka, kedua pusaka ini mempunyai kekuatan gaib. Sehingga harus diperlakukan secara hati-hati. Keris dan tombak tersebut merupakan senjata yang diperoleh dari leluhur.

Masyarakat menghormati kedua pusaka tersebut. Hanya sesepuh yang disebut rama yang boleh mengeluarkan benda-benda ini dari tempat penyimpanan dan membawanya. Benda-benda ini juga disimpan di rumah bekas kediaman leluhur. Selain keris dan tombak, benda lain yang digunakan adalah bokor, pakinangan, dan kendi sebagai tempat air suci.

Pada upacara Nyadar ketiga, seorang pemuka adat yang bertugas membaca doa, memakai pakaian khusus. Pakaian ini hanya dikenakan setahun sekali. Pakaian khusus ini disebut racok sébu (racuk sewu). Pakaian berlengan pendek dan divariasi dengan racuk sewu berupa tempelan warna merah, coklat dan bintik-bintik merah, hitam dan krem.

Baju ini dikenakan bersama odheng atau tutup kepala dan sarung. Racuk sewu juga disimpan di rumah bekas kediaman Pangeran Anggasuto. Serta hanya dikeluarkan pada saat upacara Nyadar. Setelah upacara selesai, pakaian racuk sewu disimpan kembali.

Prosesi Pelaksanaan Ritual Nyadar
Terdapat perbedaan dalam pelaksanaan Nyadar pertama dan kedua, dengan yang ketiga. Oleh karena itu pelaksanaannya dibedakan sebagaimana berikut:

Ritual Nyadar Pertama dan Kedua
Setelah semua perlengkapan upacara disiapkan, maka rangkaian upacara nyadar pun dimulai. Secara singkat untuk upacara nyadar pertama dan kedua dilaksanakan pada sore hari sekitar pukul empat sore. Semua elemen masyarakat berduyun-duyun menuju makam leluhur.

Para sesepuh membawa semua alat dan bahan upacara. Pemuka adat utama yang kira-kira berjumlah sekitar 40 orang mengenakan pakaian adat berupa jubah hitam. Hitam menyimbolkan keheningan atau kesedihan. Didahului sesepuh, semua yang hadir melakukan upacara tabur bunga di makam Pangeran Anggasuto dan keturunannya.

Usai acara tabur bunga, prosesi dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh pemuka adat utama. Pemuka adat yang satu ini basanya berpakaian jubah putih. Putih melambangkan kesucian. Setelah doa selesai oleh pemuka adat utama, baru semua warga dipersilakan untuk ikut menabur bunga dan membaca doa di makam leluhur.

Di pemakaman Pangeran Anggasuto, warga melakukan perbagai macam prosesi Nyadar selama 2 hari. Pada hari pertama, warga datang berbondong-bondong membawa kembang setaman dan butiran bedak di sore hari.

Kembang dan bedak ditempatkan di Makam Rato Agung Penembahan sebagai bentuk penghormatan. Bahkan, butiran bedak, ada yang dicampur air putih lalu dioleskan di bagian dahi. Hal itu dipercaya akan menghilangkan semua malapetaka yang akan menimpa dan memudahkan rezeki serta mempercepat mendapatkan jodoh bagi muda-mudi.

Sebagian besar ribuan warga memilih bermalam. Bagi kaum ibu-ibu diharuskan memasak segala macam masakan dengan ikan laut berukuran besar di halaman Makam. Masakan tersebut, keesokan harinya dihidangkan bagi warga dua desa itu (warga setempat menyebut Kauman), tentunya setelah didoakan para sesepuh desa.

Masakan tersebut tidak disajikan dengan memakai barang yang mudah pecah. Melainkan memakai tempat besar dari anyaman bambu dan di cat merah. Aneka makanan lainnya, seperti rengginang ukuran besar juga disajikan.

Sebagian warga yang datang berusaha mendapatkan semua jenis hidangan yang ada. Sebab dipercaya akan terhindar dari segala macam malapetaka dan memperoleh kemudahan dalam mencari rezeki. Aksi dorong pun tak bisa dihindari untuk merebut hidangan.

Ritual Nyadar Ketiga
Waktu Pelaksanaan Nyadar ketiga sekitar bulan September. Upacara dilaksanakan di bekas kediaman Pangeran Anggasuto. Ritual ini dimaksudkan sebagai bentuk sekaran di bekas kediaman leluhur.
Pelaksanaan Nyadar ketiga dimulai dengan pembacaan doa oleh tokoh adat.

Masyarakat mengamini doa tersebut. Acara dilanjutkan dengan pembacaan naskah Jatiswara dan Sampurna Sembah. Kedua naskah tersebut dituliskan di atas daun lontar yang terus dipelihara hingga saat ini.
Keesokan harinya dilakukan upacara selamatan yang disebut upacara rasolan.

Dalam prosesi ini para peserta upacara membawa makanan yang diletakkan di atas piring keramik yang disebut panjang. Sebelum makan bersama, masyarakat membaca doa dipimpin pemuka adat.
Biasanya masyarakat hanya memakan sedikit dan membawa pulang sisanya.

Makanan yang dibawa pulang dibagikan kepada para tetangga yang tidak mampu. Juga kepada anggota keluarga yang tidak hadir pada acara ritual Nyadar. Sedekah makanan tersebut bertujuan agar mendapat berkah dari pelaksanaan ritual.

Sedangkan makanan yang disajikan harus berupa nasi, telur dan bandeng. Semua itu diletakkan di atas panjang (piring keramik asing). Piring keramik ini sebagai simbol tempat menyimpan rezeki. Sebagai simbol harapan agar bisa menabung rezeki dari hasil panen terakhir. Sedangkan pada panen pertama dan kedua hasilnya digunakan untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.

Dalam upacara Nyadar ketiga, pembaca doa juga mengenakan pakaian khusus racuk sewu. Pakaian ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura menyukai warna-warna. Setiap warna mempunyai simbol tersendiri.

Warna merah sebagai simbol matahari yang memiliki arti adanya kehidupan. Warna coklat menjadi simbol tanah yang kita pijak. Warna hitam simbol musim penghujan. Warna krem meniadi simbol musim kemarau. Bintik-bintik merah menjadi simbol musim pancaroba yaitu pergantian musim hujan dan kemarau.

Warna bintik-bintik merah yang didasari warna hitam menunjukkan bahwa warna matahari merah dan warna langit mendung hitam.

Dikutip dari berbagai sumber:
Detik[.]com
Wisatapedia[.]com
Wikipedia