Tradisi Abhâkalan Dalam Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Tradisi Abhâkalan Dalam Masyarakat Madura

Unzilatur Rahmah
Minggu, 29 Juli 2018

Salah satu bentuk kekayaan tradisi dalam masyarakat Madura, ialah adanya tradisi abhâkalan atau bertunangan.

Terlepas dari pro kontra yang terjadi saat iini tradisi abhâkalan ala masyarakat Madura sebagian masih mempertahankan. Baik orang yang sudah meninggalkan atau yang masih mempertahankan, tentu memiliki alasan masing-masing.

Proses Mengenal dan Nyabâ’ Ngin-angin
Dalam masyarakat Madura, tradisi abhâkalan dimulai ketika pihak calon mempelai laki-laki memasang kabar (nyabâ' ngin-angin). Dalam proses ini, pihak laki-laki bertanya kepada pihak keluarga perempuan apakah gadis yang akan dilamar sudah memiliki calon atau belum.

Dalam proses nyabâ' ngin-angin, pihak laki-laki biasanya menggunakan orang yang dipercaya untuk bertamu ke rumah si gadis. Orang yang dipercaya tersebut istilahnya pangadâ'.

Seorang pangadâ' bisa paman, tetangga, atau tokoh masyarakat yang tahu seputar keluarga si gadis. Sekaligus harus bisa dipercaya oleh kedua belah pihak.

Kalau dalam proses nyabâ' ngin-angin si pangadâ' memperoleh info kalau sang gadis belum memiliki calon, maka bisa melangkah ke proses berikutnya.

Sebelum melangkah ke proses lamaran atau pertunangan, pangadâ' menyampaikan bahwa ia akan kembali untuk menetapkan tanggal lamaran.
Kalau calon mempelai laki-laki belum tahu atau belum kenal dengan calon mempelai perempuan, maka sebelum nyabâ' ngin-angin, ada proses melihat terlebih dahulu. 

Kalau istilah Islam, disebut ta’aruf. Dimana pangadâ' bersama calon mempelai laki-laki bertamu ke rumah sang gadis untuk melihat paras wajahnya.

Tentu sekaligus mengenal silsilah keluarga dan lingkungan melalui obrolan dengan orang tua sang gadis. Dari situ, calon mempelai laki-laki dapat membuat dasar pertimbangan. Mau melanjutkan atau tidak.

Di kemudian hari, setelah proses nyabâ' ngin-angin, pangadâ'  kembali untuk menetapkan kapan lamaran akan dilakukan oleh pihak laki-laki. Dalam istilah Madura, disebut nyabâ' gheddhâng.

Inti Proses Abhâkalan Atau NyabâGheddhâng
Tanggal pertunangan pun ditetapkan.Selanjutnya dalam proses lamaran atau nyabâ' gheddhâng menjadi inti dari tradisi abhâkalan atau pertunangan. 

Dimana pihak calon mempelai laki-laki beserta rombongan (terdiri dari keluarga inti, tetangga dekat dan keluarga dekat) berkunjung ke rumah sang gadis dengan membawa seserahan.

Diantara seserahan atau bantaran wajib dalam tradisi abhâkalan ialah cincin emas. Cincin emas tersebut bisa ditaruh di dalam bantaran paket bedak dan perawatan tubuh. 

Bisa juga di dalam paket hantaran pakaian untuk sang gadis.

Namun yang musim sekarang, cincin langsung dipakaikan ke si gadis oleh ibu si laki-laki.

Selain cincin, hantaran wajib saat proses nyabâ' gheddhâng ialah pisang raja. Sebagaimana nama dari tradisi ini. Pisang yang menjadi bantaran haruslah pisang pilihan. 

Yakni pisang raja yang sudah matang sedang dan dihias dengan kertas krep. Diletakkan di atas nampan. Lalu dibungkus dengan plastik khusus hantaran.

Selain pisang, juga harus ada paket make up, peralatan mandi dan peralatan tubuh. Ada juga paket hantaran berupa pakaian lengkap.

Mulai dari kerudung, baju, dan sandal.
Selain itu, hantaran yang harus ada ialah roti hias dengan nama kedua pasangan yang sedang bertunangan.

Sebagian juga mengharuskan adanya paket hantaran berupa buah, kue tradisional seperti tettel dan wajik.

Selebihnya, hantaran bisa berupa kue-kue tradisional dan sembako. Hantaran tersebut bisa disediakan semua oleh keluarga calon mempelai laki-laki, bisa juga meminta sumbangan ke tetangga.
Pada proses nyabâ' gheddhâng, selain menyematkan cincin di jari si gadis, juga dilakukan doa.

Agar tidak ada halangan dan ujian berarti sampai tanggal pernikahan ditentukan, bahkan sampai hari pernikahan. Terutama bagi pasangan yang hendak menjalin hubungan pertunangan untuk waktu lama (sampai hitungan tahun).

Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Makanan disediakan oleh tuan rumah, atau keluarga sang gadis. Bila acara selesai, pihak keluarga sang gadis akan menyampaikan kapan waktu untuk bertandang ke rumah sang lancéng (panggilan untuk laki-laki yang belum pernah menikah).

Acara usai. Calon mempelai laki-laki beserta keluarganya pun pulang. Tinggal menunggu hari kapan si gadis dan keluarganya akan bertandang. Dalam istilah Madura disebut tungkebhân.

Bila acara nyabâ' gheddhâng selesai, seorang gadis atau lancéng resmi disebut abhâkalan. Alias bertunangan.

Tungkebhân Atau Menghapus Jejak
Dalam acara tungkebhân, sama seperti ketika sang lancéng dan keluarganya berkunjung untuk nyabâ' gheddhâng. Bedanya, tidak ada hantaran wajib sebagaimana proses nyabâ' gheddhâng. Orang Sampang menyebutnya nyabâ' tettel.

Hantaran bisa berupa kue-kue tradisional sesuai dengan kemampuan keluarha sang gadis. Beberapa keluarga membatasi jumlah orang yang akan ikut dalam proses nyabâ’ gheddhâng dan tungkebhân. 

Ini terkait dengan kemampuan keluarga untuk menyiapkan sajian makanan.

Saat acara tungkebhân selesai, selesai pula prosesi tradisi abhâkalan. Beberapa orang hanya melakukan komunikasi seperlunya usai tali pertunangan terjalin.

Tradisi Lanjutan dalam Hubungan Pertunangan
Namun sebagian ada yang mempertahankan tradisi yang satu ini. Dimana saat hari raya, si gadis dijemput oleh tunangannya untuk berkunjung ke rumahnya. Sebagian masyarakat bahkan mengharuskan si gadis menginap semalam di rumah tuangannya.

Sebelum hari raya, si gadis juga dijemput untuk diajak membeli pakaian baru. Tradisi inilah yang penuh dengan pro-kontra.

Yang kontra terhadap tradisi tersebut jelas tidak mau menjalani. Pasalnya keduanya belum resmi menikah. Jadi belum boleh berboncengan. Apalagi sampai si gadis menginap di rumah tunangannya. Khawatir terjadi sesuatunya tidak diinginkan.

Sedangkan yang pro terhadap tradisi tersebut, mengharuskan si gadis mau saat dijemput. Bila tidak, khawatir hubungan tidak terjalin dengan baik dengan alasan sudah tradisi. Khawatir tali pertunangan dapat gagal pula.

Itulah beberapa hal yang berkaitan dengan tradisi abhâkalan atau bertunangan dalam masyarakat Madura.