Mengenal Tradisi Ritual Ojhung

Advertisement

Ads

Mengenal Tradisi Ritual Ojhung

Unzilatur Rahmah
Minggu, 29 Juli 2018

Dalam Islam kita mengenal shalat istisqo’. Sebagai sarana memohon rahmat Allah berupa hujan. Shalat Istisqo’ umumnya dilakukan saat kemarau panjang. Hingga masyarakat kekurangan air.

Shalat istisqo’ umumnya dilakukan secara berkelompok atau berjamaah. Dilaksanakan di area atau lapangan terbuka. Selain bertujuan memohon turunnya hujan, shalat istisqo’ juga sebagai sarana pertaubatan.

Kalau dalam Islam dikenal shalat Istisqo’, masyarakat Madura jaman dulu mengenal ritual Ojhung. Sebuah ritual tradisional yang sama-sama bertujuan meminta hujan.

Proses Pelaksanaan Ritual Ojhung
Sebagaimana beragamnya etnik Madura, ritual Ojhung juga beragam. Ada yang menggunakan senjata berupa tombak. Ada juga yang menggunakan cambuk.

Cambuk tersebut terbuat dari rotan yang dikepang. Cambuk dengan panjang kurang lebih 110 cm tersebut disebut Lapolo. Selanjutnya dililitkan pada jari manis dan jari tengah agar tidak mudah lepas.

Sebagian lagi menggunakan pelindung kepala berupa bhuko’ yang terbuat dari karung goni. Di dalam karung goni tersebut diberi sabit kelapa sebagai tambahan perlindungan. Melilitkan sarung di lengan kiri sebagai alat menangkis serangan.

Namun ada pula yang tidak memerlukan alat perlindungan tersebut.

Namun secara umum, ritual Ojhung mengharuskan pemainnya telanjang dada dan kaki.

Intinya ritual Ojhung ini merupakan ritual berupa pertarungan antara 2 orang laki-laki. Dua orang yang bertarung bisa berdasarkan penunjukan, tantangan atau berdasarkan suka rela. Pertarungan tersebut diatur oleh wasit yang disebut Bhubhoto.

Selama pertarungan, ada musik tradisional pengiring yang disebut Okol. Musik Okol ini juga digunakan untuk mengiringi seni kéjhung. Dimana salah satu alat musiknya terbuat dari akar pohon siwalan.

Petarung yang dianggap pemenang oleh wasit ialah petarung yang lebih banyak memukul. Atau ia yang terluka terlebih dahulu, dianggap kalah.
Sebagian petarung bahkan berlatih terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri menghadapi lawan. Sebagian bahkan menggunakan jimat.

Jaman dulu, pertarungan dilaksanakan di area yang dikelilingi masyarakat banyak. Sekarang, bahkan sudah ada lapangan dengan ukuran tertentu yang menjadi pembatas.

Sebagian bahkan menjadikan ritual Ojhung ini sebagai sarana perjudian. Untuk menontonnya juga harus membayar atau membeli tiket.

Sejarah Ritual Ojhung
Kec. Batuputih Sumenep merupakan salah satu daerah yang menjadi pusat pelestarian tradisi Ojhung. Konon, ritual Ojhung ini memang muncul dari daerah ini.

Sejarawan memperkirakan, Arya Wiraraja sebagai penguasa pertama di Sumenep yang memunculkan ritual ini pertama kali. Pada masa Arya Wiraraja, Kec. Batuputih menjadi pusat pemerintahan.

Jadi tak heran bila hingga saat ini, ritual Ojhung masih bertahan di daerah ini. Pada zaman dahulu, Ojhung dilaksanakan dengan tujuan keluar dari kemarau panjang. Sehingga dilaksanakan di akhir musim kemarau.

Berdasarkan cerita rakyat, awalnya ada 4 bersaudara yang sedang mencari sumber mata air. Saat mata air milik mereka mengering, mereka bermain semacam ‘perang-perangan’ di atas bukit secara bergantian. Salah satu diantara mereka menjadi wasit.

Mereka kemudian menemukan sumber mata air di tempat bermain tadi. Sehingga sampai sekarang sumur tersebut mebjadi lokasi pelaksanaan ritual Ojhung.

Namun seiring perkembangannya, Ojhung menjadi semacam hiburan rakyat yang menampilkan adu kekuatan. Bahkan saat ini, di Kec. Batuputih Ojhung menjadi semacam perlombaan setiap pekan. Ada juga yang khusus setiap tahunnya. Dilaksanakan memang untuk tujuan ritual.

Ritual Ojhung juga merambah ke masyarakat Madura di perantauan. Khususnya di daerah tapal kuda. Yang mana daerah tersebut memang didominasi keturunan suku Madura.