Orang Madura yang Pekerja Keras

Advertisement

Ads

Orang Madura yang Pekerja Keras

Unzilatur Rahmah
Minggu, 15 April 2018

eMadura.com - Sejak kecil masyarakat Madura sudah terbiasa dengan bekerja dalam artian mencari uang. Bagi masyarakat Madura, menghidupi diri sendiri merupakan perkara yang mutlak harus dilakukan. Bahkan bagi sebagian besar generasi 80-an ke bawah, masa anak-anak dan masa sekolah banyak dikorbankan untuk bekerja. Entah itu bekerja membantu orang tua, atau mencari nafkah sendiri.

Tak heran bila masyarakat Madura generasi 80-an dan generasi sebelum itu, terbiasa dengan kerja keras. Bahkan bila mereka mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih, keadaan serba kekurangan. Tumbuhlah jiwa-jiwa tangguh yang mandiri dan pekerja keras. Bila melihat orang tua zaman sekarang, terutama yang hidup di desa, yang laki-laki sibuk bekerja di ladang. Yang perempuan tidak mau kalah untuk membantu. Bila yang laki-laki menjadi kuli dan semacamnya, yang perempuan mencari pekerjaan sampingan yang bisa menjadi tambahan penghasilan.

Kerja keras dan kerja sama laki-laki dan perempuan ini menghasilkan sebuah irama kehidupan yang luar biasa. Yang laki-laki tidak merasa lelah bekerja sendirian. Sebab selalu ada istri yang mendampingi dan memberikan semangat. Yang perempuan merasa tidak berguna bila tidak bisa membantu suami bekerja. Bahkan cenderung merasa kasihan bila melihat suami bekerja sendirian. Apapun dikerjaan. Yang penting tidak berdiam diri dan halal. Persoalan hasil, lebih banyak pasrah kepada Tuhan daripada hitung-hitungan.

Sayangnya mental pekerja keras ini mulai terkikis dari generasi berikutnya. Apalagi generasi 90an dan generasi sesudahnya, menganggap pekerjaan bertani merupakan pekerjaan berat tidak menghasilkan. Meski demikian, masyarakat Madura generasi 90-an dan sesudahnya lebih memilih kerja cerdas. Mengeluarkan tenaga dan modal sekecil mungkin, untuk mendapatkan penghasilan semaksimal mungkin. Sebab didikan generasi ini sudah berbeda.


Masyarakat Madura generasi 90-an ke atas sudah mulai melek teknologi. Juga sudah mengenyam pendidikan yang cukup baik, minimal SMP atau yang setara. Meski mereka sama-sama dididik untuk tidak manja, mereka tetap memiliki cara pandang yang berbeda dalam bekerja mencari nafkah. Namun demikian, masyarakat Madura tetaplah sosok pekerja keras. Tidak ada masyarakat Madura yang benar-benar menganggur. Mereka minimal masih memiliki aktivitas yang menghasilkan uang meski tidak pasti dan tidak rutin. Entah dari membantu kedua orang tua atau bekerja serabutan.