Khotmil Qur’an, Salah Satu Cara Mendoakan Mayit di Peringatan Kematiannya

Advertisement

Ads

Khotmil Qur’an, Salah Satu Cara Mendoakan Mayit di Peringatan Kematiannya

Unzilatur Rahmah
Minggu, 10 Desember 2017

Sama halnya dengan kelahiran, kematian menjadi momen penting dalam proses perjalanan panjang kehidupan manusia. Kelahiran merupakan simbol perpindahan kehidupan dari alam rahim menuju alam dunia. Sedangkan kematian menjadi simbol perpindahan dari alam dunia ke alam kubur yang panjang. Setiap batas dalam perjalanan kehidupan manusia memang selalu memiliki tanda. Itulah salah satu alasan mengapa peringatan kematian itu tetap dilaksanakan di kalangan masyarakat Madura khususnya daerah pedesaan.

Pada hari pertama sampai hari ke-tujuh, masyarakat biasa melaksanakan acara tahlilan yang dihadiri kaum laki-laki. Selanjutnya pada hari ke 40, 100, 1 tahun hingga 1000 hari juga diperingati dengan mengundang tetangga dan sanak saudara untuk melaksanakan acara tahlilan bersama. Di sebagian kalangan masyarakat Madura, peringatan 40 hari, 100 hari, 1 tahun dan 1000 hari ada yang sekaligus melaksanakan khotmil qur’an.

Khotmil qur’an dilaksanakan dengan mengundang orang yang memang sudah biasa melaksanakan khotmil qur’an. Dimana pembacaan Al-Qur’an tersebut dikhususkan untuk kebaikan si mayit serta seluruh keluarganya yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Pelaksanaan khotmil Qur’an pada peringatan kematian dilakukan sebelum acara tahlilan. Bila acara tahlilan diadakan pada ba’da dhuhur, maka khataman Al-Qur’an dimulai sejak pagi. Dan sudah harus selesai sebelum adzan dhuhur dikumandangkan. Pembacaan Khotmil Qur’an dikeraskan melalui pengeras suara berupa loadspeaker. Meskipun demikian, penggunaan loadspeaker tidak lah mutlak.

Dari sekian ragam peringatan kematian yang dilaksanakan di Madura, khotmil qur’an tentu menjadi ciri khas tersendiri. Selain menjadi sarana ibadah dan mendoakan mayit, pelaksanaan khotmil qur’an menjadi salah satu pelestari ajaran untuk Iqro’ yang sudah diajarkan sejak jaman Rasulullah. Meski di satu sisi, kadang pelaksanaan khotmil qur’an sekadar menjadi ritual belaka. Mengingat bacaannya yang cenderung dipercepat atau terburu-buru, serta tidak ada menyerapan makna di dalamnya. Sisi inilah ke depan yang perlu diperbaiki.