Aneka Kerajinan Anyaman dari Bahan Bambu

Advertisement

Ads

Aneka Kerajinan Anyaman dari Bahan Bambu

Minggu, 10 Desember 2017

Bambu merupakan salah satu tanaman yang menjadi simbol negara Cina. Meski demikian, bambu dapat tumbuh subur di Indonesia yang merupakan daerah tropis. Bambu dapat tumbuhh dengan mudah dan cepat di cuaca dingin dan lembab seperti di Indonesia, tak terkecuali di Madura.

Di kalangan masyarakat Madura sendiri, pohon bambu memberikan banyak sekali manfaat bagi kehidupan. Saat masih berua rimbunan pohon, akar-akar bambu bermanfaat sebagai penyangga tebing yang rawan longsor. Mengingat sebagai daerah dg iklim tropis, kontur tanah di Madura juga rawan sekali terhadap longsor.

Selain dimanfaatkan sebagai pencegah longsor, pohon bambu juga bisa dimanfaatkan menjadi perabot anyaman keperluan rumah tangga. Berikut ini beberapa kerajinan anyaman bambu yang biasa dimanfaatkan sebagai perabot oleh masyarakat Madura:

Bidhik
Bagi Anda para petani atau pembisnis tembakau, istilah bidhik tentu bukan sesuatu yang asing. Bidhik biasa digunakan sebagai alas ketika menjemur tembakau rajangan.  Bidhik merupakan sejenis anyaman bambu yang dibuat tebal namun sudah diiris dengan lebar kurang lebih 2 cm. Tekhnik menyanyam bidhik tentu tidak hanya menggunakan tangan. Tetapi juga menggunakan alat bantu pemukul, baik berupa kayu atau besi. Karena setiap helai iriasan bambu yang akan dianyam menjadi bidhik ini masih tebal dan keras.

Kajhâng
Berbeda lagi dengan bidhik¸ Kajhâng merupakan sejenis anyaman dari bahan bambu namun diiris sangat tipis. Lebar irisannya pun lebih kecil dibandingkan ketika akan membuat bidhik. Kajhâng dimanfaatkan sebagai tabing atau tembok rumah pada jaman dahulu. Sebagian masyarakat modern juga memanfaatkan Kajhâng sebagai pembatas ruangan dan langit-langit rumah.   

Ghâddhâng
Kerajinan anyaman dari bambu berupa Ghâddhâng hampir sama dengan kajhâng. Bedanya, Ghâddhâng digunakan sebagai alat untuk membersihkan beras dan lain-lain. Ghâddhâng biasanya berbentuk bundar dan diberi pinggiran berupa bambu pula. Pemanfaatan Ghâddhâng memang lebih kepada keperluan rumah tangga sehari-hari.

Itulah beberapa kerajinan anyaman bambu yang mana masyarakat Madura memanfaatkan sebagai perabotan rumah tangga. Orang yang memiliki kemampuan menganyam Kajhâng dan Ghâddhâng biasanya hanya orang tertentu saja. Sisa-sisa masyarakat Madura jaman dahulu dan cenderung sudah tua. Berbeda dengan bidhik yang bisa dibuat oleh siapapun dengan hanya belajar sekali duduk.