Ragam Mitos di Madura Bagi Wanita Hamil

Advertisement

Ads

Ragam Mitos di Madura Bagi Wanita Hamil

Unzilatur Rahmah
Kamis, 09 November 2017

Pasangan yang sudah menikah biasanya sangat menanti sebuah perjalanan berupa kehamilan. Sebab dengan kehamilan, menjadi tanda bahwa keduanya akan segera memiliki keturunan. Kehamilan juga menjadi satu pelengkap kebahagiaan dalam rumah tangga. Selama kurang lebih 9 bulan lamanya, sang ibu menjalani proses kehamilan dengan ragam suka dan duka.

Terlepas dari hal itu, proses kehamilan bagi sebagian masyarakat Madura tidak lepas dari mitos. Kepercayaan setempat masih tetap berlaku, bahkan begitu dipercaya oleh sebagian orang. Mitos yang berlaku bagi wanita hamil diantaranya ialah sebagai berikut:

1. Bila Dua Bersaudara Hamil Bersamaan, Harus Makan di Luar-Dalam Pintu
Ketika dua bersaudara hamil secara bersamaan, keduanya harus makan bersama. Yang satu makan di luar pintu, yang satunya makan di dalam pintu. Bila hal ini tidak dilaksanakan, sebagian masyarakat Madura percaya kalau salah satunya akan mengalami kesulitan bahkan musibah.

2. Suami Si Wanita Hamil Tidak Boleh Membunuh Ular
Ketika sang istri sedang mengandung, suami tidak boleh membunuh hewan sembarangan, khususnya ular. Bila larangan ini dilanggar, anak yang dilahirkan kelak, lidahnya dipercaya akan menjilat-jilat ke luar seperti lidah ular.

3. Harus Melewati Ritual "Pélét Betteng"
Pélét betteng merupakan salah satu ritual bagi ibu hamil yang sampai saat ini masih dipertahankan. Pélét betteng seharusnya dilaksanakan pada usia kehamilan bulan ke-7. Namun bagi sebagian orang melaksanakannya pada usia kehamilan bulan ke-4. Pelaksanaan ritual Pélét betteng ialah dengan memandikan si ibu hamil dengan air kembang sambil membawa ayam jantan muda, kelapa dan telur. Telur dipegang oleh dukun beranak yang mendampingi. Setelah ritual mandi selesai, ayam jantan diserahkan ke dukun, dan kelapa digulirkan begitu saja ke tanah. Si ibu hamil selanjutnya berlari pelan menuju tempat mandi. Seserahan tambahan kepada dukun beranak yang mendampingi ialah beras, telur dan aneka kue. Namun pada saat ini, ritual tersebut sudah dilengkapi dengan acara mengaji, tahlilan dan doa bersama untuk keselamatan sang ibu dan jabang bayinya.
Seorang ibu yang hamil anak pertama, kemudian tidak melaksanakan ritual ini, dipercaya dapat menyebabkan anaknya lahir dengan kondisi mental yang tidak berkembang secara sempurna atau normal. Entah sang anak akan menjadi autis, disleksia atau kondisi mental tidak normal yang mana orang Madura menyebutnya dengan istilah 'hélap'.

4. Tidak Boleh Menyimpan Barang di Lipatan Sarung pada Area Perut
Salah satu kebiasaan perempuan Madura asli ialah menggunakan pakaian sarung, lalu meletakkan barang tertentu di lipatan sarung bagian perut bila tidak menemukan wadah lain. Barang yang diletakkan bisa berupa uang, makanan, sisa-sisa panen hasil pertanian, dan sebagainya. Kebiasaan semacam ini dipercaya dapat menyebabkan perut bergelambir usai melahirkan. Apalagi bila dilakukan oleh ibu hamil.

5. Banyak Makan Jambu Biji dapat Membuat Anak yang Dilahirkan Berparas Cantik/ Ganteng
Mitos yang berlaku bagi ibu hamil selanjutnya ialah berkaitan dengan makanan. Suka memakan jambu biji pada saat hamil dipercaya dapat membuat bayinya kelak memiliki rupa yang menawan. Padahal persoalan fisik tidak bisa lepas dari unsur genetik ibu dan ayahnya.

6. Bila Ingin Sesuatu Tapi Tidak Terpenuhi, Anak yang Dilahirkan Bisa Ileran
Mitos ini tidak hanya berlaku di Madura, tetapi juga di Jawa. Kalau dipikir-pikir, bukan bayinya yang ileran. Tapi sang ibu yang memang ketika hamil, tidak bisa melihat ragam makanan sedikit saja. Bila melihat makanan meski hanya gambar atau fotonya, langsung terlintas keinginan kuat untuk memakan makanan tersebut.

Beberapa mitos yang berlaku bagi ibu hamil di Madura tersebut sebagian masih sangat dipegang erat. Seperti keharusan melakukan ritual pélét betteng dan anak yang ileran ketika  lahir. Terlepas Anda mau percaya atau tidak, ini hanya mitos. Kebenarannya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.