Beragam Mitos bagi Anak Perawan Madura

Advertisement

Ads

Beragam Mitos bagi Anak Perawan Madura

Kamis, 09 November 2017

Bagi sebagian kecil masyarakat Madura, kepercayaan akan mitos yang ditinggalkan nenek moyang jaman dahulu masih tetap dipegang teguh. Masyarakat yang masih memegang teguh untuk mengikuti mitos tersebut biasanya sedikit, bahkan sama sekali tidak mengenyam pendidikan modern. Sehingga pemikirannya masih begitu manut pada perkataan orang tua yang diwariskan secara turun-temurun.

Begitu banyak mitos yang dipercaya sebagian kecil masyarakat Madura. Salah satunya mitos yang berkaitan dengan anak gadis. Bagi anak gadis jaman sekarang, mitos seperti yang akan dijelaskan nanti ini sebetulnya tidak berlaku dalam kehidupannya. Namun orang tua selalu saja menyebut-nyebut soal mitos tersebut sebagai bentuk pengingat. Beberapa mitos masyarakat Madura bagi anak gadis diantaranya sebagai berikut:

1. Dilarang Duduk di area Pintu
Larangan semacam ini berlaku pada anak gadis, mulai sejak masih kecil. Duduk di area pintu merupakan sebuah larangan. Menurut para orang tua, bila anak gadis sering melanggar hal ini, dapat mengakibatkan hal yg kurang baik; bila ada laki-laki yang hendak melamar, katanya akan mundur. Dalam istilah Madura disebut "Gheddhengah abelih". Gheddheng atau pisang merupakan salah satu simbol lamaran dalam masyarakat Madura.

Namun menurut penulis, larangan dan ancaman tersebut tetap saja tidak masuk akal. Tidak ada hubungannya sama sekali antara duduk di area pintu dengan lamaran yang gagal. Larangan tersebut menurut penulis sekadar bermaksud agar anak gadis, atau siapapun tidak membiasakan diri duduk di area pintu dan menghalangi jalan. Sedangkan ancaman yang tidak masuk akal tersebut hanya merupakan sebuah sugesti agar aturan tersebut ditaati.

2. Tidak Boleh Makan Pisang Bagian Paling Pinggir
Mitos yang berlaku bagi anak gadis selanjutnya ialah larangan makan pisang di bagian pinggir. Ciri khas dari pisang bagian pinggir biasanya hanya memiliki geligir 3. Sedangkan yang lain memiliki geligir 4-5. Mitosnya, bila anak gadis melanggar aturan ini, tidak akan ada laki-laki yang melamar. Dalam istilah Madura disebut 'Sangkal'. Hingga saat ini, penulis belum menemukan keterkaitan antara pisang dengan jodoh. Termasuk alasan logis dari larangan tersebut.

3. Sebaiknya Tidak Makan Buntut Ayam
Ayam biasanya memiliki bagian buntut atau ekor dengan tekstur daging yang empuk dan tebal. Nah, bagian ini tidak boleh dimakan anak muda, baik anak perempuan maupun laki-laki. Kalau terlalu sering makan ekor ayam, akan menjadi penyebab munculnya sifat suka menyesal di belakang hari.

4. Dilarang Duduk di Pinggir Jalan dan Makan Sambil Berjalan
Duduk di pinggir jalan merupakan sebuah pantangan keras bagi seorang anak gadis. Juga kebiasaan makan di luar rumah, apalagi sambil berjalan. Bila ini dilanggar akan menyebabkan si gadis seret jodohnya. Menurut orang tua di Madura, anak gadis yang suka nongkrong di pinggir jalan dan makan sambil berjalan merupakan gadis yang bertabiat buruk. Nongkrong di pinggir jalan hanya akan menggnggu pengguna jalan. Makan sambil berjalan, di samping Islam melarang, juga akan menimbulkan kesan bahwa si gadis itu orang yang boros atau suka makan.

5. Meletakkan Tangan di Pinggang Belakang  Ketika Menyapu, Kelak dapat Disayang Suami
Ketika menyapu rumah dan halaman, salah satu kebiasaan orang Madura ialah meletakkan tangan kiri di bagian pinggang belakang. Sedangkan tangan kanan terus menyapu. Bila kebiasaan ini dilakukan oleh anak gadis, kelak ia akan sangat disayang oleh suaminya.

6. Mengelap Tangan Pada Betis Usai Cuci Tangan Sesudah Makan dapat Disayang Mertua
Aturan ini tidak hanya berlaku bagi anak gadis, tetapi juga anak lelaki. Ketika tidak ada serbet atau kain yang bisa difungsikan sebagai serbet, betis dapat menggunakan sebagai gantinya. Mitos ini dipercaya dapat menyebabkan dia disayang mertuanya kelak.

7. Dilarang Bernyanyi di Dalam Dapur
Menyanyi di dalam dapur merupakan sebuah mitos yang berlaku bagi anak gadis. Kebiasaan bernyanyi di dapur dapat mengakibatkan kelak si gadis akan memiliki suami yang sudah tua.

Itulah beberapa mitos yang berlaku bagi anak gadis di Madura. Tentu kepercayaan semacam ini sudah tidak lagi dijadikan pedoman. Karena sebagian besar gadis di Madura sudah mengenyam pendidikan modern, minimal setingkat SMP atau SMA. Lagi pula yang namanya, tidak dapat dibuktikan kebenarannya dengan metode ilmiah jenis apapun.