Bibit Cabai, Salah Satu Ide Bisnis Pertanian Menjelang Musim Penghujan

Advertisement

Ads

Bibit Cabai, Salah Satu Ide Bisnis Pertanian Menjelang Musim Penghujan

Senin, 30 Oktober 2017

Bagi sebagian besar masyarakat Madura secara umum, pertanian masih menjadi salah satu pilihan utama dalam mengais rejeki. Pertanian di Madura tergolong jenis pertanian musiman. Terutama di daerah kering yang pengairannya hanya mengandalkan air hujan. Saat musim kemarau, masyarakat menanam tumbuhan yg tidak butuh terlalu banyak air semisal tembakau dan sayur-mayur. Sedangkan di musim penghujan, masyarakat menanam tanaman bahan makanan pokok seperti jagung, padi, singkong dan sebagainya. Cabai rawit juga menjadi salah satu tanaman andalan masyarakat Madura pada musim penghujan.

Menjelang musim penghujan, sebagian masyarakat Madura beramai-ramai menabur bibit cabai rawit. Tepat pada akhir musim kemarau, beberapa minggu sebelum prakiraan hujan pertama akan turun, masyarakat mulai menabur biji cabai untuk ditanam saat musim penghujan tiba. Biji cabai tersebut sengaja disimpan dari hasil pengeringan sisa-sisa cabai rawit masak saat musim penghujan.

Perawatan bibit cabai juga dapat dikatakan mudah. Cabai ditumbuk, kemudian biji-bijinya ditabur di area yang sudah disiapkan. Setelah itu, area tersebut ditutupi dengan daun kelapa kering (klaréh), lalu disiram setiap pagi. Bibit cabai juga tidak membutuhkan air terlalu banyak. Yang penting sudah disiram satu kali setiap hari, untuk menjaga agar tanah dan bibit tidak kering dan tumbuh dengan baik. Untuk pemberian pupuk, cukup satu kali sebelum benih dicabut dan ditanam satu per-satu pada area tegal yang lebih luas.

Harga per-seratus pohon cabai cukup beragam dari musim ke musim selanjutnya. Tergantung banyaknya orang yang menabur bibit dan banyaknya masyarakat yang ingin menanam cabai. Mulai dari harga Rp.10.000 hingga Rp. 30.000 per-seratus pohon. Cukup murah memang. Namun harga tersebut cukup untuk menambah pemasukan rumah tangga.