"Kiai As'ad Singa dari Situbondo" ini Karya Putri Daerah Keturunan Madura

Advertisement

Ads

"Kiai As'ad Singa dari Situbondo" ini Karya Putri Daerah Keturunan Madura

SAKERA MEDIA
Jumat, 16 Desember 2016

Lomba ini memang telah lama usai, namun apa salanya jika eMadura.com ingin berbagi secuil sejarah ini yang dipresentasikan oleh Diana Millah Islami saat mengikuti lomba. Semoga bisa menjadi tambahan wawasan Sejarah Perjuangan Bangsa untuk Anda.

Lomba ini bertujuan untuk menumbuhkan apresiasi dan kreatifitas generasi muda Indonesia dalam pemahaman nilai-nilai kesejarahan, serta menumbuh kembangkan dan menggairahkan minat komikus muda untuk membuat komik sejarah sebagai bacaan alternatif sejarah.

Lomba ini ditujukan untuk umum dengan mengangkat subtemah "TOKOH SEJARAH LOKAL DAN NASIONAL DALAM PEMBANGUNAN NILAI-NILAI NASIONALISME DAN KEBANGSAAN PADA GENERASI MUDA INDONESIA".

LKKTS adalah aktivitas yang baru kali ini dilaksanakan dalam PENTAS 2011.
Para finalis yang telah tersaring  mempresentasikan karya komik mereka pada hari sabtu 17 september 2011 di Gedung Juang Palu, yang disaksikan oleh dosen, guru, mahasiswa, siswa SLTA dan pemerhati sejarah dari kota Palu.

Presentasi karya komik sejarah oleh para finalis berlangsung dari jam 08.30 hingga 15.00 Wita.

satu per-satu finalis mempresentasikan hasil karya komik mereka. Selain dewan juri, para dosen, mahasiswa serta pelajar yang ikut menyaksikan presentasi tersebut berhak memberikan pertanyaan kepada para finalis seputar tema komik yang dipresentasikan.

Berikut presentasi hasil karya komik Diana Millah Islami yang berjudul "Kiai As'ad Singa dari Situbondo:

K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, lahir di Mekkah pada tahun 1897  ketika orang tuanya, Raden Ibrahim dan Siti Maimunah,  menunaikan ibadah haji.

Pada umur 6 tahun Kiai As’ad tinggal di Pesantren Sumber Kuning, Pamekasan, Madura. Pada usia sekitar 11-12 tahun, Kiai As’ad diajak ayahnya menyeberangi laut dan membabat hutan disebelah timur Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, yang waktu itu terkenal angker.

Kiai As’ad menghimpun para bajingan ke dalam wadah “Pelopor”. Pelopor dibentuk untuk berjuang membela agama dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Penjajah.

Setelah Perang Dunia II, Belanda datang ke Indonesia bersama sekutunya (Inggris).

Pada tanggal 22 Oktober 1945 diadakan pertemuan pengurus NU, dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan menghasilkan “Resolusi Jihad”. Kiai As’ad hadir dalam pertemuan tersebut.

Pada tanggal 25 Oktober 1945, 6 ribu tentara Inggris  dipimpin A.W.S. Mallaby mendarat di Tanjung Perak, Surabaya.

Pada tanggal 30 Oktober 1945 A.W.S. Mallaby  tewas. Panglima tentara Sekutu, Jendral Christison mengancam rakyat Surabaya. Sementara itu, Laksmana Muda Peterson bersama 1.500 anak buahnya mendarat diam-diam di Surabaya.

Kiai As’ad kemudian mengundang para bajingan Madura ke Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, untuk dilatih berperang. Selain itu, ia mengumpulkan anggota Pelopor di daerah Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi.

Beliau kemudian menyiapkan anggota Pelopor untuk berjuang melawan Belanda dengan memberikan tugas yang cukup jelas sesuai dengan latar belakang dan keahliannya masing-masing. (Sumber: http://pentas2011.blogspot.co.id)


Ini dia sekilas penampakan komiknya
Diana Millah Islami juara 3 se-Indonesia dalam Lomba Karya Komik Tokoh Sejarah yang diadakan oleh Ditjen Sejarah dan Purbakala, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI tahun 2011. 

Profil Singkat Diyana Millah Islami

Nama lengkap : Diyana Millah Islami

Lahir : di Sitobondo Jawa Timur (Keturunan Madura).

Jenis Kelamin : Perempuan

Penghargaan :

  • Juara 3 se-Indonesia dalam Lomba Karya Komik Tokoh Sejarah yang diadakan oleh Ditjen Sejarah dan Purbakala, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI tahun 2011.
  • Novel Yasmin karyanya menjadi juara pertama Lomba Menulis Novel 1000 Wajah Muslimah yang diadakan oleh Penerbit "Bunyan" PT Bintang Pustaka Yogyakarta tahun 2013.

Ia telah menyelesaikan studi S-1 Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember pada tahun 2011. ia Juga Pernah nyantri di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan Probolinggo dan di Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo.