Almarhum Kiai As'ad Mendapat Gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo

Advertisement

Ads

Almarhum Kiai As'ad Mendapat Gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo

SAKERA MEDIA
Kamis, 29 Desember 2016

PROFIL SINGKAT DAN KISAH K.H.R. AS’AD SYAMSUL ARIFIN

Kiai As'Ad syamsul Arifin adalah pengasuh kedua Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur. Beliau lahir pada tahun 1897 di Mekah ketika orangtuanya menunaikan ibadah haji dan beliau meninggal pada tahun 1990 di Sukorejo Situbondo.

Kiai As'Ad syamsul Arifin merupakan keturunan dari Kiai Ruham pendiri Pondok Pesantren Kembang Kuning Pamekasan Madura. Beliau secara resmi mendapat gelar Pahlawan Nasional yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo tepat pada 9 November 2016 lalu.

Pada masa mudanya, KH R. As’ad muda menghabiskan masa lajangnya di berbagai pondok pesantren di pulau jawa. Beberapa Popes yang pernah beliau tempati dalam mengais ilmu agama, antara lain PP Demangan Bangkalan asuhan KH. Cholil, PP Panji, Buduran, PP Tetango Sampang, PP Sidogiri Pasuruan, PP Tebu Ireng Jombang dan berbnagai Ponpes lainnya di Pulau Jawa dan Madura.

KHR. AS’AD SYAMSUL ‘ARIFIN DAN NAHDLOTUL ULAMA

Belum lengkap rasanya cerita NU tanpa peranan ulama besar ini, KHR. As’ad adalah sosok kyai yang dari awal telah menganut paham-paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah dan selalu menghiasi kehidupan dalam kesehariannya dengan budaya-budaya ke-NU an.

Saat menjadi santri KH. Cholil bangkalan, Kyai As’ad muda menjadi santri kesayangan gurunya sehingga pada masa dimana terjadi peralihan Perkumpulan Ulama dalam “ Komite HIjaz “ menjadi “jam’iyah” Kyai As’ad muda menjadi satu-satunya mediator dalam penyampaian isyaroh KH. Cholil kepada KH. Hasyim As’ari Jombang. Beliau diutus oleh Kyai Cholil pada tahun 1924 beliau menyampaikan satu tongkat disertai Surat Thoha ayat 17 s/d 23, pada tahun 1925 beliau kembali di utus menyampaikan hasil istikhoroh gurunya kepada KH. Hasyim As’ari, beliau kembali kejombang dengan seuntai tasbih dan bacaan ya jabber, ya qohhar 3x.

Pada tahun 1945, ketika Laskar Hisbullah dibentuk Kyai As’ad langsung bergabung dan memimpin pasukan bergerilya di daerah besuki dan sekitarnya. Uniknya, pasukan yang beliau pimpin adalah bara mantan bajingan, mereka dihimpun dalam barisan pelopor yang kemudian engambil peran dalam perjuangan kemerdekaan dan penumpasan PKI di Situbondo 1965.

Setelah pemilu 1955, Kyai As’ad menjadi anggota konstituante sampai tahun 1959. setelah Lembaga itu di bubarkan oleh Bung Karno beliau tidak banyak beraktivitas di bidang politik.

Pada tahun 1971, Kyai As’ad menjadi DPRD KAbupaten Situbondo dan pada tahun 1977 beliau mendukun PPP karena NU saat itu mendukung PPP.

Selain itu, Kyai As’ad merupakan salah satu diantara sekian ulama yang selalu menjembati persoalan-persoalan yang terjadi antara pemerintah dan umat islam, khususnya warga NU. Sikapnya yang tegas dantangkas sertabijaksana, beliaiu mampu memainkan perannya sebagai ulama’ NU (pengayom Masyarakat) sekaligus sebagai politisi yang arif.

Kebijakan-kebijakan kembali dibuktikan pada tahun 1982 mengenai masalah mata pelajaran PMP yang menjadi kontrofersi antara umat islam dan pemerintah, tanpa banyak bicara beliau langsung menemui presiden soeharto dan menunjukan beberapa hal yang mestinya dikoreksi, tidak beberapa lama, dalam tahun itu juga PMP yang menuai kontrofersi tersebut direvisi dan disempurnakan oleh pemerintah.

Begitu pula ketika terjadi konflik antara Muslimin Indonesia vs NU dalam tubuh PPP dan rencana pemerintah memberlakukan Pancasila sebagai satu-satunya azas Organisasi Sosial, Politik maupun kemasyarakatan, tiba-tiba di PP Salafiyah Syafi’iyah berkumpul ratusan Ulama’ NU untuk mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) yang berlangsung pada tanggal 18-21 Desember 1983. ketika semua Ormas Islam benyak menolak azas pancasila, justru Munas menerimanya dan menganggapnya tidak bertentangan dengan aqidah islam dan Munas tersebut memutuskan mengembalikan NU kegaris dan landasan asalnya, yang kemudian popular dengan istilah kembali ke khittah 1926. inilah sebagian dari peran Kyai As’ad dalam memulihkan keutuhan NU dan Umat Islam di Negara ini.

KH As’ad Syamsul Arifin, Mengubah Pasir Jadi Senjata

Tidak hanya dikenal sebagai tokoh pejuang dan ulama kharismatik, sosok KH As’ad Syamsul Arifin ternyata juga dikenal memiliki banyak karomah. Salah satunya bisa mengubah pasir menjadi jentuman senjata serta membelah diri menjadi dua. Bagaimanakah kisahnya?
Dideretan ulama-ulama besar di Indonesia, nama KH As;ad Syamsul Arifin tentu bukanlah nama yang asing. Ia merupakan mediator berdirinya salah satu ormas terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan juga pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa timur, yang dikenal dengan jumlah ribusn santrinya.

Sebagai kiai dan ulama besar, KH As’ad tidak hanya dikenal menguasai ilmu dari para guru dan kitab-kitab hikmah saja, namun juga mempunyai banyak kelebihan atau karomah yang jarang dimiliki oleh manusia biasa.

Seperti halnya yang diungkapkan KH Fawaid As/ad, salah satu putra almarhum mengatakan jika kelebihan atau ilmu-ilmu beladiri yang dimiliki oleh sang ayah memang cukup banyak. Hal itu bukanlah semata-mata digunakan untuk menyombongkan diri, namun untuk membela agama dan mempertahankan negara dari serangan penjajah.

PEJUANG KEMERDEKAAN

Diantara kisah-kisah mengenai bukti kekaromahan KH As’ad semasa hidupnya pun terkuak dari KH Fawaid.

“Pada zaman dulu, murid-murid beliau itu banyak dari kaum bromocorah (preman,red), sehingga beliau pun banyak mendalami ilmu beladiri,” tutur KH Fawaid memulai cerita.

Ilmu-ilmu beladiri yang dimiliki KH As’ad, sambung KH Fawaid, juga diajarkan kepada para muridnya.

Tidak hanya itu, kemasyhuran kekaromahan KH As’ad juga terbuti pada saat perang kemerdekaan. Kepada Kisah Hikmah, KH fawaid jga mengisahkan jika pada saat perang gerilya, beberapa pejuang tampak membawa pasir. Pasir itu konon adalah pemberian dari KH As’ad kepada para pejuang. Pasir tersebut kemudian ditaburkan ke kacang hijau di dekat markas tentara Belanda atau jalan yang akan banyak dilewati tentara Belanda.

“Aneh, suatu keajaiban terjadi. Puluhan tentara Belanda yang bersenjata lengkap itu tiba-tiba lari terbirit-birit ketakutan sambil meninggalkan senjatanya. Mungkin mereka mengira suara pasir itu adalah suara dentuman senjata api. Para pejuan pun memungut satu persatu senjata yang ditinggal Belanda, “ kisah KH Fawaid.

BISA MUNCUL DI BANYAK TEMPAT

Lebih jauh, KH Fawaid bahkan menceritakan, ada kisah lain yang mengisyaratkan bahwa KH As’ad memang bukanlah ulama sembarangan. Kisah itu terjadi pada saat Kiai Mujib (teman KH As’ad) diajak KH As’ad menghadiri delapan acara walimah haji yang berada di luar kota.

Keduanya pun berangkat dari rumah, sekitar pukul 20.30 WIB. Namun anehnya, Kiai Mujib baru merasakan keajaiban yang dialaminya setelah kembali ke Sukorejo. Dia kaget lantaran delapan lokasi acara walimah haji yang didatangi oleh KH As’ad ternyata hanya ditempuh dalam waktu dua jam.

“Padahal, perjalanan pulang pergi aja memerlukan waktu dua jam, sementara mereka harus mengunjungi delapan kali acara yang tempatnya masing-masing sangat berjauhan. Ini belum lagi dihitung waktu KH As’ad memberi ceramah dan jamuan makan, yang tentu saja memakan waktu tidak sebentar. Ini ajaib. Mana mungkin perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam plus semua acara yang tempatnya saling berjauhan dan memakan waktu berjam-jam itu, bisa dilakukan hanya dengan dua jam?” ungkap KH Fawaid.

Kiai Mujib pun mengemukakan kebingungannya itu kepada sopir KH As’ad, H Abdul Aziz.

“Iya..ya, kenapa bisa begitu?” katanya sambil berulang kali melihat jam tangannya untuk meyakinkan diri bahwa saat itu memang baru pukul 22.30 WIB.

“Usut punya usut, seminggu kemudian. Di Sukorejo, Haji Aziz akhirnya memperoleh info mengenai keributan yang hampir saja terjadi di antar pemilik delapan acara walimah tersebut karena masing-masing ngotot didatangi kiai pada saat yang bersamaan. Akhirnya, mereka sama-sama heran, sebab masing-masing mempunyai bukti berupa foto ketika kiai berada di rumah-rumah mereka,” imbuh KH Fawaid.

Peristiwa seperti itu tampaknya juga pernah dialami sendiri oleh KH As’ad ketika muda. Dia heran, ada kiai yang menjadi imam salat Jumat di tiga masjid dalam waktu yang bersamaan. Menurut kisah, KH As’ad bermakmum saat salat Jumat dengan imam Kiai Asadullah di Masjid Besuki. Bupati Situbondo, yang mendengar hal itu, membantah dan sambil ngotot mengatakan bahwa Kiai Asadullah hari itu mengimmi salat Jumat di Situbondo, bahkan sang bupati mengaku berdiri tepat di belakangnya. Penghulu Asembagus yang kebetulan mendengar pertikaian itu, malah menimpali bahwa Kiai Asadullah menjadi imam masjid di daerahnya.

Hal itu mengingatkan KH As’ad pada dawuh (perintah) Habib Hasan Musawa bahwa Kiai Asadullah telah mencapai maqam fana fi adz dzat, bisa menjadi tiga bahkan sepuluh dalam waktu bersamaan. Ilmu yang sama kelak akan dimiliki jiga oleh KH As’ad. Wallahu a’lam