Inilah Penemu "Ayam Bekisar" Kangean Sumenep Madura

Advertisement

Ads

Inilah Penemu "Ayam Bekisar" Kangean Sumenep Madura

Aminullah
Rabu, 14 Desember 2016



Pulau Kangean/Bekisar Island merupakan Pulau terbesar yang merupakan bagian dari Kabupaten Sumenep Madura. Pulau Kangean terkenal dengan Ayam Bekisar dan ada juga yang menyebut ayam cukir (hasil persilangan ayam kampung dan ayam hutan) dan juga sebagai Pulau penghasil Kelapa Tua yang unggul di Madura.
Makam Pangeran Parajir, Penemu Ayam Bekisar Kangean Sumenep
Salah satu seorang tokoh asal Pulau Kangean yang menemukan persilangan ayam kampung dan ayam hutan berada di desa Daandung atas. Menurut kesaksian warga setempat dan para sesepuh desa Daandung Abd.Razak menyampaikan bahwa : Pangeran Parajir ini adalah merupakan orang pertama kali yg menemukan perkawinan Ayam hutan dg Ayam Kampung atau dengan kata lain perkawinan silang.

Hasil anakan ayam kampung dan ayam hutan itulah yang kemudian disebut ayam bekisar. Ayam bekisar memiliki suara unik melengking. Semakin melengking, harganya pun semakin melambung. Perbedaan harga tentunya pun juga sesuai dengan corak bulu yang dimiliki ayam bekisar tersebut.

Peminat/Pembelim ayam bekisar hanya orang-orang yang berduit, karena harga dan bunyinya yang uniklah ayam bekisar ini menjadi menarik. Dapat ditemukan di Madura, didepan rumah orang kaya yang memiliki ayam bekisar tersebut, biasanya ayam bekisar ini diberikan kurung khusus yang mana harga kurungnya pun tidak murah.
Ayam Hutan - Image Source
Tentu hasil dari perkawinannya tersebut akan melahirkan BEKISAR, ada sebuah pertanyaan, Mengapa diberi nama BEKISAR? ternyata nama tersebut memiliki sebuah makna yg unik yg artinya (Bagiannya Untuk Para Pembesar).

Menurut Kades Daandung Buasan, bhwa pangeran parajir juga sebagai penggagas atau pencetus Budaya kerapan Kerbau atau dgn sebutan Pamajiran Bhs Kangean, maksud dan tujuannya adalah untuk membangkitkkan semangat para kaum petani dan cinta terhadap Hewan yg biasa membantu untuk membajak sawah para petani.

Selain itu juga untuk mempererat tali silatur rahim antar Desa yang satu dengan desa lainnya,dimana hal tersebut dapat dilakukan hanya seusai menanam padi atau manje' ( baahsa Madura/Kangean ). Dan sampai saat ini Budaya Kerapan Kerbau masih bertahan sedangkan kegiatan Perkawinan Silang antara Ayam Hutan dengan Ayam Kampung sudah mulai pudar bahkan terancam punah.(Sumber : Kangean.net)