Taneyan Lanjhang; Posisi Perempuan Secara Cultural

Advertisement

Ads

Taneyan Lanjhang; Posisi Perempuan Secara Cultural

Aminullah
Kamis, 04 Agustus 2016

Sahabat Madura tentu sudah pernah mendengar istilah Taneyan lanjhang, bukan? yups, taneyan lanjhang adalah bentuk rumah adat Madura yang memiliki halaman memanjang yang dihuni oleh beberapa keluarga dari garis keturunan yang sama. Rumah-rumah yang terdapat dalam pemukiman taneyan lanjhang selalu dibangun berderet dari barat ke timur dan selalu menghadap ke selatan –sebagaimana posisi semua rumah tradisional yang lain- menurut urutan kelahiran anak perempuan dari keluarga yang bersangkutan.

Apa harus selalu anak perempuan?

Ya, karena dalam system perkawinan Madura, taneyan lanjang mencerminkan kombinasi antara uksorilokal dan matrilokal atau uxorimatrilokal. Artinya, anak perempuan yang telah menikah tetap tinggal di pekarangan orang tuanya sementara anak lelaki yang sudah menikah pindah ke pekarangan istri atau mertuanya (Wiyata, 2002: 42).

Jika memperhatikan struktur formasi dan dasar pembentukan pola pemukiman taneyan lanjhang tampak jelas bahwa dalam ideology keluarga Madura anak perempuan memperoleh perhatian dan proteksi khusus dibandingkan dengan anak laki-laki. Perhatian dan proteksi orang Madura terhadap kaum perempuan tidak hanya terlihat pada struktur formasi dan dasar pembentukan pola pemukiman taneyan lanjhang akan tetapi dapat dilihat pula pada struktur formasi seluruh rumah tradisional keluarga orang Madura. Setiap rumah pasti memiliki sebuah bangunan langgar atau surau. Lokasinya selalu berada di ujung halaman bagian barat sebagai simbolisasi lokasi Ka’bah yang merupakan kiblat orang islam ketika menunaikan ibadah shalat. Bangunan surau ini tidak saja mempunyai fungsi yang bermakna religiusitas tapi secara cultural memiliki fungsi khusus sebagai tempat untuk menerima tamu laki-laki. Tujuan utama menempatkan tamu laki-laki di bangunan surau adalah untuk mencegah kemungkinan terjadinya perilaku-perilaku negative bernuansa seksualitas akibat pertemuan antara tamu laki-laki tersebut dengan anggota keluarga perempuan (terutama istri) dari pihak tuan rumah.

Kebiasaan untuk membuatkan rumah untuk perempuan yang sudah menikah bukanlah karena alasan terhadap kesejahteraan belaka. Tetapi dapat dianalisis sebagai ungkapan nilai primordial masyarakatnya, dan hal ini memberikan gambaran tentang pola matrilineal yang terlihat dengan jelas. Bahwa Rumah adalah milik perempuan. Peruntukan rumah adalah untuk ditinggali oleh kelompok perempuan. Rumah dihuni oleh perempuan dan anak-anak kecil, sedangkan laki laki dewasa memiliki ruang yang berada di luar dan sifatnya sangat umum seperti misalnya langgar. Nah, sudah jelas bukan bagaimana budaya Madura sangat menjaga anak-anak gadisnya?



Penulis : Orien Nisya