Madura yang Islam? atau Madura yang NU ?

Advertisement

Ads

Madura yang Islam? atau Madura yang NU ?

Aminullah
Jumat, 26 Agustus 2016

Mayoritas masyarakat Madura memang beragama Islam, dan mereka merupakan pengikut NU yang fanatik. Hingga muncul sebuah guyonan, “95% orang Madura itu NU, sisanya Muhammadiyah”. Bahkan, Cak Nun (Emha Ainun Najib) acapkali membuat anekdot bahwa agama orang Madura itu adalah NU.

Tanpa bermaksud mendikotomikan kedua organisasi islam terbesar di Indonesia tersebut, tulisan ini hanya untuk memaparkan sosio-historis keagamaan masyarakat Madura. Agar kita juga lebih paham akan penjatidirian kita sebagai masyarakat Madura yang beragama Islam. 

NU (Nahdlatul Ulama) merupakan organisasi Sunni terbesar di Indonesia yang selama ini begitu gencar dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam yang moderat. Citra sebagai gerakan Islam moderat, diakui atau tidak, adalah milik NU. Organisasi ini merupakan basis utama para penganut paham ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. NU merupakan sebuah gerakan sosial keagamaan yang menggantikan kedudukan SI (Sarekat Islam) di desa-desa Madura. Pasca SI, tepatnya sejak tahun 1926 jaringan keagamaan yang tetap tumbuh dan dominan di dalam masyarakat pedesaan, bahkan merambah kawasan perkotaan Madura adalah Islam kultural model Nahdlatul Ulama (NU) ini. Sebenarnya, pada permulaan tahun dua puluhan, juga sempat berdiri cabang gerakan social keagamaan Muhammadiyah di Madura. Di samping usahanya untuk mengembalikan Islam ke ajaran yang sejati (memurnikan Islam dari takhayul, khayalan, dan ilmu sihir), gerakan ini juga berjuang untuk mencapai perubahan yang maju di bidang social kemasyarakatan.

Hanya saja, gerakan Muhammadiyah yang reformistis ini mengalami penolakan dari masyarakat setempat. Meskipun sama sekali tidak menentang perubahan, dalam hal pemurnian ajaran agama mereka berpendapat gerakan itu terlalu maju dan memaksakan perubahan dalam tempo yang terlalu cepat. Sementara NU, meskipun juga menghendaki agar perubahan-perubahan itu dilaksanakan, tapi lebih dilakukan secara berangsur dan dengan memperhatikan tradisi-tradisi setempat. Selain itu, para kiai merasa posisi tradisional mereka bisa terancam oleh rencana-rencana pengajaran organisasi ini, yang hendak mengganti pola pengajaran pesantren dengan sekolah-sekolah model barat yang terpusat (Steenbrink 1974; 47-54 dalam Jonge 1989; 248).  Berbeda dengan Nahdatul Ulama yang didukung oleh para kiai dan dalam hal pola pendidikan lebih bersifat desentralisasi, memberikan kebebasan pada cabang-cabang lokal.

Secara genealogis keagamaan, sikap fanatic masyarakat Madura akan identitas keIslaman dengan identitas ke-NU-an ini dapat dipahami karena kelahiran NU masih terkait dengan peran seorang kyai yang sangat dihormati di Madura, yaitu KH. Syaikhona Kholil Bangkalan. Dimana para muridnya seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah bertindak sebagai aktor utama pendirian organisasi NU (Rozaki, 2004: 52). Sejak saat itulah – bahkan hingga kini – NU tampil secara dominan dan mewarnai corak keberagamaan masyarakat Madura, baik dalam hal agama sebagai pegangan hidup, agama sebagai pola tingkah laku hidup sehari-hari, maupun agama sebagai pola pengajaran dan pendidikan.

Nah, sudah tahu kan kenapa masyarakat Madura bisa se-fanatik itu dengan identitas ke-NU-annya?

Namun, terlepas kita NU, Muhammadiyah, atau yang lainnya, kita harus selalu ingat bahwa keragaman agama, ideology, dan etnis menjadi kekayaan budaya manusia, maka bersikaplah lapang dan arif agar ketiganya bersinergi menjadi mozaik yang indah. Kita, Indonesia.