"Air Mata Ibu" di Arosbaya Bangkalan Madura

Advertisement

Ads

"Air Mata Ibu" di Arosbaya Bangkalan Madura

SAKERA MEDIA
Jumat, 26 Agustus 2016

Salah satu area di Aer Mata Ebu/Air Mata Ibu, Bangkalan, Madura
Kali ini yuk kita travelling dulu ke wisata religi-budaya yang ada di Madura. Di Bangkalan, ada sebuah pesarean yang biasa disebut dengan “Aer Mata Ebu”. Tentu, kita semua sudah tidak asing lagi dengan nama tempat ini, bukan? hayoo… siapa yang belum pernah kesini? Duh… rugi deh. Disini selain kita bisa ziarah, kita juga bisa belajar sejarah, dan juga belajar tentang filosofi seorang “istri dan ibu”. Dari siapa lagi kalau bukan dari Rato Ebhu Syarifah Ambami. Penasaran? Yukk…

Lokasi makam Aer Mata Ebhu berada kurang lebih 36 Km dari pelabuhan kamal melalui arah utara kota bangkalan, tepatnya di desa Buduran Kecamatan Arosbaya. Jarak antara kota Bangkalan menuju lokasi makam Aer Mata kurang lebih 18 Km dan untuk sampai di kawasan pesarean tersebut memakan waktu kurang lebih 30 menit. Pesarean Aer Mata ini berada di daerah dataran tinggi tepatnya diatas bukit desa Buduran Kecamatan Arosbaya dengan ketinggian kurang lebih 19.35 m dari permukaan laut. Sedangkan luas dari kawasan Makam Aer Mata kurang lebih sekitar 3600 m2 dengan tangga yang berundak-undak sekitar 100 m.

Rato Ebhu adalah istri dari Tjakraningrat 1, penguasa Madura di sekitar tahun 1626. Sosok Ratu Ibu adalah orang yang sangat baik dan mencintai keluarga. Pada suatu ketika, Ratu Ebhu Syarifah Ambami ditinggal suaminya, P. Tjakraningrat I pergi berperang. Kepergian suaminya berperang tersebut meninggalkan kesedihan yang mendalam hingga Ratu Ebhu memutuskan untuk bertapa di Desa Buduran (Arosbaya). Dalam pertapaannya, Ratu Ebhu memohon kepada Allah SWT sambil menangis tiada henti untuk diberikan tujuh turunannya sebagai penguasa Madura. Pada proses pertapaan dan doanya, Ratu Ebhu seperti merasakan kehadiran seorang Nabi Hidir yang memberikan isyarat bahwa permohonannya akan terkabulkan. Perasaan akan dikabulkannya doa inilah yang kemudian menjadikannya kembali pulang.

Sekembalinya  Pangeran Tjakraningrat I dari peperangan, dia mencari istrinya. Betapa terkejut dan marahnya P. Tjakraningrat I mendengar cerita istrinya perihal doanya saat bertapa yang hanya memohon untuk ketujuh turunannya saja (Raja Tjakraningrat 1 ingin semua keturunannya, tidak hanya terbatas tujuh turunan). Mendengar kemarahan dan kekecewaan suaminya tersebut, Syarifah Ambami sedih dan kembali ke tempat pertapaannya semula. Dalam pertapaan keduanya tersebut Syarifah Ambami berdoa dan memohon agar segala yang diinginkan dan diharapkan suaminya dapat terwujud dengan tiada henti-hentinya menitikkan air mata. Konon, air mata Ratu Ebhu Syarifah Ambami hingga membanjiri daerah sekitar bukit tempat dia bertapa (desa Buduran, Arosbaya).

Saat ini, makam aer mata Ebu telah menjadi objek wisata budaya dan religi yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Bangkalan dan Pemerintah Daerah Tingkat II Bangkalan. Di samping itu, penanganan Makam Aer Mata Ebu juga berada di bawah tanggung jawab suaka peninggalan sejarah kepurbakalaan Jawa Timur yang bermarkas di Trowulan Mojokerto.

Pada nyatanya, Pesarean Aer Mata ini lebih dikenal sebagai obyek wisata ziarah dibandingkan sebagai obyek wisata budaya. Hal ini disebabkan karena ada kepercayaan masyarakat setempat yang kemudian diikuti oleh masyarakat lainnya bahwa jika memohon berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui makam tersebut, maka permohonannya akan terkabul. Dengan kepercayaan inilah, maka pada hari-hari libur dan hari besar banyak yang datang berziarah ke makam Aer Mata untuk memohon berkah.

Tidak hanya doa di area pesarean ini yang dianggap mengandung sesuatu yang sakral, sumber mata air yang konon katanya merupakan air mata kesedihan sang Rato Ebhu, juga dipenuhi dengan segala hal yang berbau magis. Terlepas percaya atau tidak, menurut masyarakat dan pengunjung pesarean Aer Mata Ebhu, air tersebut bisa menyembuhkan segala macam penyakit, bisa mendekatkan jodoh, obat awet muda, serta obat kekebalan. Sehingga tidak heran jika pengunjung akan membawa “Aer Mata” ini untuk dibawa pulang.

Terlepas dari hal-hal sacral dan magis yang ada, tak salah rasanya jika kita meneladani Rato Ebhu Syarifah Ambami dalam hal kesetiaan, ketaatan, dan ketulusannya untuk senantiasa mendoakan suami dan anak keturunannya. Ya kan, guys.
Penulis : Orien Nisya