"Tahlilan Bergilir" Mempererat Tali Silaturrahmi

Advertisement

Ads

"Tahlilan Bergilir" Mempererat Tali Silaturrahmi

Aminullah
Jumat, 08 Juli 2016

Seorang pemimpin untuk menjadi panutan demi meciptakan suatu rangkaian inovasi baru, bernuansa keharmonisan serta islami dalam kehidupan masyarakat sosial ataupun bertetangga. Maka dia tidak perlu berkedudukan sebagai kiai, ulama bahkan sampai tingkat pejabat tinggi. Karena hal sedemikian terkadang salah jalan dalam menunjukkan suatu harapan dan terabaikan.

Masyarakat selalu dijumpai oleh kalangan pemimpin atau kelompok individu yang berpengaruh terhadap gerakan sosial dengan maksud dan tujuan untuk menentukan nasib kehidupan masyarakat. Namun, belum tentu dapat mengubahnya secara utuh apabila usaha yang lahir dari pemimpin tertentu hanya permainan peran bagi masyarakat.

Masyarakat Madura memiliki suatu kegiatan unik yang mampu menjaga kerukunan, rasa saling menghormati, mengedepankan toleransi, dan memaafkan antar sesama. Terutama pada momentum Hari Raya Idul Fitri yang selalu menjadi puncak kebahagian muslim usai menunaikan kewajiban ibadah puasa.

Satu tokoh kampung yang masih bertahan hidup, setia menemani masyarakat sederajat dengan kedudukan kiai yang cukup sederhana. Namun, beliau mampu mengajaknya untuk mengisi bersama-sama terhadap budaya baru yang tereksplor dari pemikiran tokoh tersebut. Oleh karenanya, tentu iniasiatif yang disampaikannya melalui musyawarah dan mendapat pangakuan positif dari masyarakat sehingga layak diterapkan pada setiap momen Hari Raya.

Tokoh ini bernama K. H. Hafidz Abdurrahman pengasuh muda selaku penerus sesepuhnya pada Lembaga Pendidikan Islam Arraudlah di bawah payung Yayasan Pendidikan Sosial dan Dakwah Sana Laok Lan Pelan Waru Pamekasan. Pandangan sikap kepribadiannya tercermin kepercayaan dan dipercaya oleh masyarakat. Karena beliau sudah dianggap satu-satunya  sosok yang dapat mendampingi ketika masyarakat sedang membutuhkannya untuk memimpin acara ritual/hajatan keluarga.

Tradisi yang hadir pada kebahagiaan masyarakat ini, terkesan keunikan dan nilai islami yang tidak lepas atas kekhasan budayanya. Tradisi tersebut adalah berupa aktivitas selamatan "Tahlilan Bergilir" dari rumah ke rumah atau dilaksanakan secara bergantian di satu kampung pada seluruh tetangga sekitar. Hal itu, perkumpulannya mulai dari kalangan remaja dan  dewasa.

Menurut salah seoarang tetangga dalam bincang rencananya. Bahwa, kegiatan semacam ini termotivasi dari kelompok tetangga lain yang terpisah dari satu kampung. Serta bangkit rasa ingin mencotoh bahkan menjalankannya dengan kegiatan yang serupa. Selain menjalankan kegiatan, bahwa cara ini bermaksud untuk bersyukur kepada Allah karena selalu berkenan memberikan nikmat indah atas segala ibadah hambanya selama bulan suci ramadhan penuh berkah.

Dari sisi perkembangannya, "Tahlilan Bergilir" ini telah berjaya dua periode mulai tahun 1427 sampai 1437 H. Saat itu telah dilaksanakan tepat pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Bahkan akan tetap konsisten dilaksanakan setiap tahun. Adapun waktu aktivitasnya, yaitu dilaksanakan selama 2 sampai 3 hari dengan mengikuti jadwal yang telah disepakati bersama.

Praktik tahlilan ini, mendorong masyarakat lebih mudah untuk memperkokoh atau mempererat tali silaturahmi dan disambut saling maaf-memaafkan antar sesama. Sucikan hati bersihkan diri sekaligus dengan niat yang tulus. Maka dengan lahirnya sejarah budaya baru, masyarakat Madura semakin tenteram dalam memapankan kehidupan sosial yang lebih baik, beretika, berbudi, dan jauh dari sifat saling buruk sangka bahkan bermusuhan. Amin

Penulis :
Abdul Rafi_Pamekasan
Alumnus. PBSI_FKIP Unisma