Perempuan dalam Budaya Carok; Antara penghormatan dan dominasi patriarki

Advertisement

Ads

Perempuan dalam Budaya Carok; Antara penghormatan dan dominasi patriarki

Aminullah
Rabu, 27 Juli 2016

Carok menjadi suatu kata yang identik dengan kekerasan, meski sebenarnya Carok merupakan salah satu bukti dari hasil peradaban manusia yang biasa disebut sebagai budaya. Bagi masyarakat Madura, Carok dianggap sebagai media kultural untuk menunjukkan kejantanan. Hal ini tentu tak lepas dari prinsip “Ango’an a pote tolang etembheng pote mata“ yang artinya lebih baik mati daripada menanggung malu. Ungkapan ini berlaku demi untuk mempertahankan martabat, hak dan harga diri. Dalam banyak kasus, timbulnya perselisihan tidak lepas dari permasalahan lingkungan dan wanita. Wanita menjadi penyebab utama terjadinya carok merupakan kenyataan yang telah jelas banyak terjadi. Karena bagi laki-laki Madura, wanita merupakan sumber segalanya. Entah wanita sebagai anak atau istri adalah salah satu sumber harga diri dan kebanggaan bagi laki-laki. Dan karenanya, harus selalu berada dalam pengawasan dan dilindungi. Perempuan, sebagai istri khususnya, bagi laki-laki Madura memang mendapat posisi di tempat tertinggi, karena dari perempuanlah mereka menjadi lebih bersemangat, meski dari kaum perempuan pula dapat menimbulkan pertikaian dan bahkan pembunuhan (carok).

Karena tingginya kedudukan perempuan Madura inilah, maka kaum perempuan khususnya para gadis dikonotasikan dengan perlambang bunga melati. Sehingga tidak heran falsafah melati menjadi pujian bagi orang-orang tua Madura bagi anak gadisnya, dengan ucapan “duh tang malate ta’ geggher polana ojhen, ban ta’ elop polana panas are”, artinya; Oh melatiku, yang tak gugur karena hujan dan tak layu karena panas matahari. Secara tersirat, ungkapan tersebut ingin menunjukkan bahwa perempuan, dalam waktu seperti apapun akan selalu dijaga dan dilindungi.

Ketika telah menjadi istri pun, perempuan merupakan perwujudan kehormatan kaum laki-laki karena merupakan Bhentalla pateh (alas kematian). Menggangu istri merupakan bentuk pelecehan paling menyakitkan bagi kaum laki-laki Madura. Hal ini dikarenakan, etnis Madura memandang fungsi perkawinan bukan sekedar penyalur kebutuhan ekonomi, afeksi, seksual, perlindungan, dan penentu status anak. Melainkan juga karena seorang lelaki Madura baru akan menentukan eksistensinya bila telah berkeluarga. Sebuah ucapan yang seringkali dipegang teguh oleh Laki-laki Madura, seperti “Saya menikah di hadapan penghulu, disaksikan banyak orang, dan memenuhi urusan agama. Jadi barangsiapa mengganggu istri saya, berarti melecehkan agama dan menginjak-injak kepala saya”.

Alhasil, banyak tindakan Carok yang terjadi karena adanya gangguan terhadap istri mereka. Perempuan dianggap sebagai simbolisasi kehormatan suami, dan karenanya orang Madura sangat melindungi istrinya. Jika diketahui ada yang melakukan gangguan terhadap kehormatan istrinya maka akan dianggap melakukan pelecehan terhadap harga diri suami dan mereka tak segan untuk melakukan Carok. Bahkan, bentuk perlindungan terhadap perempuan Madura juga tercermin dalam pola pemukiman atau formasi struktur bangunan rumah tradisional yang biasa disebut Taneyan Lanjhang. Secara cultural, ini merupakan bentuk perhatian khusus terhadap kaum perempuan, agar kaum perempuan merasa aman jika berada dalam lingkungan sosial budayanya.

Sedangkan bagi perempuan Madura, dalam hal pembagian kerja, perempuan Madura memang telah mengenal persamaan hak dan kewajiban dengan suami. Atau dengan kata lain bisa disebut semacam emansipasi pembawaan naluri. Seorang istri mampunyai peran dan tanggung jawab yang sangat penting untuk menegakkan martabat dan kehidupan rumah tangga. Mereka bersama-sama turun ke ladang membanting tulang dan memeras keringat hingga “agili pello koneng“ (mengalir keringat kuning), yang artinya bekerja keras sampai tuntas. Rasa kebersamaan kerja ini juga berlaku dipasar, dilaut, atau juga dimana saja sang suami membanting tulang.

Tetapi didalam persamaan hak tersebut, perempuan Madura menurut tradisi tetap harus selalu hidup dibawah kekuasaan pria (suami). Artinya, perempuan Madura harus tunduk, patuh, taat dan menyerah pada kemauan suami dan tidak dibenarkan untuk menolak maupun membantah. Bahkan untuk menentukan perkawinan tersebut akan diteruskan atau diputuskan (cerai), kuasa tetap berada pada suami (Laki-laki). Karena bagaimanapun, pernikahan selalu menyangkut prestise dan harga diri sebagai laki-laki yang harus dipertahankan. Kalau pun pada akhirnya perceraian tersebut terjadi, hal itu bisa jadi tetap akan berakibat buruk dan berkepanjangan, dan juga bisa berpotensi memicu terjadinya Carok.

Meski perempuan tidak menjadi actor dalam terjadinya Carok, tapi perempuan seringkali menjadi obyek dalam budaya carok. Di satu sisi, terjadinya Carok di klaim sebagai bentuk penghormatan terhadap harga diri, termasuk terhadap harga diri perempuan. Namun, di sisi lain, tidakkah itu menandakan sebagai salah satu bentuk dominasi patriarki terhadap perempuan Madura?


Penulis : Orien Nisya