ISLAM; “organizing principle” Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

ISLAM; “organizing principle” Masyarakat Madura

Aminullah
Rabu, 27 Juli 2016

Masyarakat Madura memang selalu dicitrakan sebagai masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai keagamaan, utamanya agama Islam. Ada yang tahu gak historisnya? Mengapa agama Islam menjadi penjatidirian penting bagi orang Madura, dan Kiai menjadi tokoh utama dan tertinggi?

Menurut Kuntowijoyo, persoalan mengenai kefanatikan masyarakat Madura terhadap agama juga tidak lepas dari kondisi-kondisi alam yang mengelilinginya, yang kemudian berperan dalam pembentukan perilaku sosial masyarakatnya. Di Madura, kebanyakan desa mempunyai pola desa tersebar (scattered village), di mana perumahan penduduk terpencar dalam kelompok-kelompok kecil lima atau enam keluarga, yang dikelilingi oleh tanah tegal. Dari ekosistem tegal yang seperti itulah kita bisa menarik sebuah kesimpulan logis, bahwa masyarakat yang tidak memiliki banyak waktu untuk bekerja sama dalam mengatur pengairan desa, tentu tidak akan mempunyai tingkat solidaritas desa yang tinggi. Demikian juga kondisi desa yang memencar menambah sulitnya masyarakat desa untuk menjadi sebuah satuan teritorial dan sosial. Untuk mempersatukan desa-desa tepencar itulah, perlu adanya jenis organisasi sosial lain yang mampu membentuk solidaritas.

Jika desa tidak dipersatukan dalam suasana ekonomi, maka sistem simbol menjadi lebih kuat. Demikian juga, karena terpencar, perlu ada pengikat yang menjembatani pemecahan desa. Dalam hal ini agama menjadi “organizing principle” bagi orang Madura. Pertama, agama memberikan collective sentiment melalui upacara-upacara ibadah dan ritual serta simbol yang satu (Kuntowijoyo, 1994: 86-87). Misalnya, di Madura orang juga membangun Masjid desa untuk melaksanakan ibadah jum’at secara bersama, karena dalam ketentuan syariat, tidaklah sah shalat jum’at yang tidak dihadiri 40 orang jamaah. Keharusan agamalah yang menjadikan masyarakat Madura menjadi masyarakat dengan membentuk organisasi sosial yang didasarkan pada agama dan pada otoritas kiai. Masyarakat sipil yang dibangun di atas masyarakat desa hanya menjadi organisasi supradesa yang berada di permukaan, tetapi tidak mempunyai pengaruh dan kekuasaannya sendiri.

Sebagaimana masyarakat patrimonial yang memegang teguh hierarki, posisi kiai sebagai pemimpim keagamaan dalam masyarakat Madura menjadi sangat kuat. Kekuasaan sosial terpusat pada tokoh-tokoh yang secara tradisional keberadaannya sangat dibutuhkan untuk mempersatukan mereka, bukan karena dipaksakan maupun keinginan para tokohnya. Dalam konteks inilah—yang awalnya peran kiai hanya menyempit dalam area keagamaan—kemudian melebar ke kawasan pendidikan, sosial dan bahkan politik, seperti saat ini.


Author : Orien Nisya