Tradisi Nisyfu Sya’ban di Madura

Advertisement

Ads

Tradisi Nisyfu Sya’ban di Madura

Senin, 06 Juni 2016

Madura merupakan salah satu suku dimana perilaku-perilaku sosial masyarakatnya sangat beragam. Mulai dari ujung barat hingga ujung timur pulau Madura, memiliki keragaman yang unik. Mulai dari keragaman bahasa, tradisi hingga pola tingkah laku masyarakat. Namun keragaman tersebut disatukan dalam satu kata; Madura.

Dalam sebuah keragaman yang menyatu, Madura memiliki satu tradisi keagamaan yang berbeda dari suku lain di Indonesia. Tradisi keagamaan yang berlangsung pada malam pertengahan bulan Sya’ban pada hitungan kalender Hijriyah. Orang Madura menyebutnya dengan Sya’bânan atau Rebbâân. Kenapa disebut Rebbâân ? Karena dalam Bahasa Madura, Bulan Sya’ban disebut dengan Bulân Rebbâ.

Tepat tanggal 15 Bulan Sya’ban, masyarakat Madura akan berkumpul di masjid, langgar atau mushallah untuk membaca yasin dan doa bersama. Yasin biasanya dibaca sebanyak 3 kali lalu dilanjutkan doa khusus Nisyfu Sya’ban (separuh Bulan Sya’ban). Acara ini dilakukan usai Shalat Maghrib atau Shalat Isya’. Usai membaca Yasin dan doa bersama, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Makanan yang dimakan bersama dibawa oleh masyarakat jamaah masjid, mushallah atau langgar yang bersangkutan.

Dalam Islam, Bulan Sya’ban merupakan bulan yang istimewa. Berdempetan dengan Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya’ban diistimewakan karena di bulan ini, buku catatan amal manusia diganti. Tepatnya pada tanggal 15 Bulan Sya’ban. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak amal baik. Di samping itu kita juga dianjurkan meminimalisir amal buruk, dan menyesali semua dosa-dosa yang pernah diperbuat. Tradisi Rebbâân merupakan salah satu cara masyarakat Madura memperbanyak amal kebaikan; dengan membaca Al-Qur’an bersama, serta bersedekah.



eMadura.com - Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com