Setiap Perbuatan (Baik) Tergantung Niat

Advertisement

Ads

Setiap Perbuatan (Baik) Tergantung Niat

Senin, 23 Mei 2016


Dalam sebuah maqol Bahasa Arab, ada sebuah kalimat penting tentang niat. Artinya kira-kira ‘Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niat. Dan sesungguhnya setiap perkara tergantung apa yang diniatinya’. Dalam setiap amalan bagi umat muslim, niat tidak boleh lepas darinya.

Dalam mengerjakan ibadah wajib serta sunnah, niat tidak boleh terlupakan. Bahkan dalam Islam, perkara mubah bisa membuat orang yang mengerjakan mendapat pahala hanya karena niat. Misalnya makan. Hukum asli makan dan minum sebenarnya adalah mubah. Menjadi wajib jika tidak makan akan kelaparan. Hukum makan juga menjadi sunnah jika ada dasar hukum yang menetapkan. Namun tetap mubah dalam konteks makan sehari-hari. Namun bila makan sehari-hari itu diniatkan sebagai jalan agar sempurna melaksanakan ibadah, maka makan bisa menjadi sumber pahala. Namun bagaimana dengan pekerjaan haram yang diniatkan untuk kebaikan?

Ini alasan mengapa dalam judul di atas, ada kata baik dalam tanda kurung. Karena perbuatan jelek atau haram tetap haram meski niatnya baik. Misalnya mencuri untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Itu tetap tidak bisa dibenarkan.

Kecuali yang berkaitan dengan nyawa. Seperti orang yang memakan bangkai atau makanan haram dari segi dzatnya yang lain. Karena khawatir kelaparan. Sedangkan makanan yang halal sudah tidak dimiliki lagi. Atau berbohong kepada orang yang memburu dan hendak membunuh sesama muslim.

Artinya, setiap amalan memang tergantung niat. Namun bukan berarti dapat kita jadikan sebagai alat pembenaran terhadap tindakan kita yang salah. Manfaatkan niat sebaik mungkin untuk meningkatkan pahala rutinitas sehari-hari. Hindari pula dari penyalahgunaan niat.


eMadura.com - Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com