Menangkap Capung dengan Sarang Laba-Laba

Advertisement

Ads

Menangkap Capung dengan Sarang Laba-Laba

Senin, 23 Mei 2016

Sebagai bagian dari generasi 90-an, penulis pikir anak-anak generasi 90-an cukup kreatif. Dalam serba keterbatasan, anak-anak jaman dulu cukup kreatif dalam menciptakan keseruan. Tidak perlu mainan dengan harga mahal, anak-anak sudah bisa bermain tanpa bosan. Kadang sampai lupa waktu makan dan mandi. Salah satu cara anak-anak bermain pada waktu itu ialah dengan memanfaatkan sarang laba-laba luar ruangan.

Ada banyak jenis laba-laba yang terdapat di dunia, khususnya di Indonesia. Jenis laba-laba yang dijadikan bahan mainan anak-anak ialah laba-laba luar ruangan. Masyarakat Madura menyebutnya Ketténg. Ketténg memiliki sarang yang lebih melekat dibandingkan jenis laba-laba luar ruangan. Oleh karena itu, bisa digunakan untuk menangkap Capung yang berkeliaran pada pertengahan musim penghujan. Tepatnya saat jagung di sawah para petani sudah mulai mengering.

Cara menangkap Capung menggunakan sarang Ketténg ialah dengan membuat alatnya terlebih dahulu. Alat yang dibutuhkan antara lain lidi yang mudah diatur atau tidak mudah patah. Alat yang kedua ialah batang pohon jagung yang belum terlalu kering. Kedua ujung lidi disematkan ke ujung atas pohon jagung. Lidi akan membentuk wilayah berbentuk oval. Selanjutnya, sarang Ketténg digulungkan pada lidi berbentuk oval. Sehingga menyerupai raket tennis berukuran kecil.

Cara menggunakan raket sarang laba-laba tersebut ialah dengan melekatkannya pada sayap Capung yang sedang hinggap. Sebagai satu bentuk keseruan, kadang anak-anak rela menangkap capung ke tengah-tengah tanaman jagung. Karena Capung biasanya banyak hinggap di ujung-ujung Pohon Jagung.

Capung yang tertangkap biasanya dilepaskan kembali, lalu menangkap lagi yang baru. Namun sebagian anak-anak yang tidak memiliki belas kasihan, justru membuang Kaki-kaki Capung. Kadang juga memberikan getah Daun Singkong pada mata Capung sehingga sulit menentukan arah saat terbang.


Namun di luar itu, generasi anak tahun 90-an memang cukup kreatif dalam bermain. Sehingga tidak ada kata bosan dalam bermain. Meski permainan tersebut justru menguras tenaga, seakan tidak mengenal kata lelah. 


eMadura.com - Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com