Memahami Arti Pribahasa Madura Abujâi Saghârâ

Advertisement

Ads

Memahami Arti Pribahasa Madura Abujâi Saghârâ

Senin, 23 Mei 2016


Setiap orang memiliki kemampuan serta keluasan pengalaman yang berbeda satu sama lain. Dari saking kreatifnya Tuhan, tidak ada manusia yang persis sama. Baik dari segi fisik maupun psikis. Kalaupun ada orang yang mirip, itu sama dalam beberapa hal. Namun tetap memiliki perbedaan.

Begitu pula dalam hal menyikapi pengetahuan atau kemampuan yang ia miliki. Ada yang tidak menyadari akan kemampuannya. Ada yang benar-benar sadar akan kemampuan serta pengetahuannya. Ada pula yang setengah sadar.

Orang yang tidak sadar akan kemampuannya, dalam kehidupan sosial sering kali mudah diperdaya. Ia selalu menganggap dirinya rendah dan tidak bisa apa-apa. Sebaliknya, orang yang benar-benar sadar akan kapasitas dirinya akan pandai memposisikan diri dalam kehidupan sosial. Kesadaran yang menyeluruh juga tidak mudah membuat orang jenis ini unjuk diri, apalagi menyombongkan diri.

Namun ada juga orang yang setengah sadar akan kapasitas dirinya. Dia tidak bisa apa-apa, tapi sering merasa dan mengaku serba bisa. Atau kalaupun sebenarnya dia memiliki kemampuan yang memadai dalam banyak hal, sayangnya di satu sisi ia tidak memiliki kesadaran dalam memposisikan diri. Sehingga membuatnya mudah unjuk diri serta menyombongkan diri.

Kaitannya dengan pribahasa Abujâi Saghârâ, pribahasa ini ditujukan kepada orang yang benar-benar menyadari kapasitas serta siapa dirinya. Orang jenis ini tidak mudah menunjukkan siapa dan seperti apa kemampuan dirinya kecuali benar-benar dibutuhkan. Tak heran jika orang baru tidak mudah mengenali dirinya.

Sebut saja orang yang memiliki pengalaman serta pengetahuan luas, juga kesadaran diri yang matang ini dengan A. Sedangkan orang yang bertemu dengan si A ini kita sebut B. Jika si B merupakan tipe orang yang mudah unjuk diri, tentu dia akan lebih banyak berbicara dibandingkan si A. Hingga si B tidak menyadari, bahwa ia telah berbagi satu pengetahuan kepada orang yang jauh lebih mengetahui, bahkan ahli. Atau menceritakan satu pengalaman, padahal si A jauh lebih memiliki banyak pengalaman. Maka tindakan si B ini dapat disebut dengan pribahasa Abujâi Saghârâ (menggarami lautan).

Lautan sudah memiliki rasa air yang asin. Namun si B masih menggaraminya. Dalam hati Si A, dia mungkin saja tersenyum dan menganggap penuturan si B biasa saja. Sebagaimana kita menggarami lautan. Tidak merubah rasa sedikitpun. Tidak memiliki pengaruh psikologis apapun. Itulah sekilas tentang makna pribahasa Madura Abujâi Saghârâ. 



eMadura.com - Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com