Makna Pribahasa Abeddhâ’ é Dâlem Aéng

Advertisement

Ads

Makna Pribahasa Abeddhâ’ é Dâlem Aéng

Unzilatur Rahmah
Senin, 23 Mei 2016


Dalam salah satu puisinya, Gus Mus menuturkan tentang makhluk yang paling sia-sia di muka bumi. Ialah manusia. Puisi Gus Mus tersebut bukan tanpa alasan. Bukan pula mengabaikan baiat Allah terhadap manusia sebagai ciptaan terbaik. Puisi Gus Mus tersebut berangkat dari fenomena dimana manusia banyak yang lupa terhadap fitrahnya.

Sikap lupa terhadap fitrahnya, membuat manusia seringkali melakukan pekerjaan yang sia-sia. Hal ini searti denan pribahasa Madura Abeddhâ’ é Dâlem Aéng. Pekerjaan berbedak merupakan aktivitas yang bermanfaat. Namun bila itu dilakukan di dalam air, maka menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Pekerjaan sia-sia tidak selalu perbuatan yang tidak memiliki manfaat, atau yang jelek sekalipun. Pekerjaan baik bisa menjadi sia-sia karena beberapa hal. Bisa karena niatnya atau tujuannya yang salah. Bisa karena ada penyebab lain yang membuat pekerjaan bermanfaat tersebut rusak. Atau karena mengerjakan tapi tidak dengan hati ikhlas.

Artinya ada beberapa sebab yang bisa merusak kemanfaatan dari suatu perbuatan. Baik manfaat bagi orang yang melakukan, atau manfaat terhadap orang lain. Jadilah tindakan yang awalnya bermanfaat tersebut, menjadi tindakan yang sia-sia. Kalau kata orang Madura, karé lessonah (hanya dapat lelah).

Sama halnya dengan pribahasa Abeddhâ’ é Dâlem Aéng. Pekerjaan bermanfaat menjadi sia-sia karena dilakukan dengan cara yang salah. Jadinya hanya buang-buang waktu, tenaga, juga buang-buang bedak.



eMadura.com - Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com