Téker, Kerajinan Tangan Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Téker, Kerajinan Tangan Masyarakat Madura

Unzilatur Rahmah
Rabu, 17 Februari 2016

Di balik stereotipe atas kekerasan watak masyarakat Madura, ada kreatifitas yang harus menjadi kebanggan bagi masyarakat Madura itu sendiri. Orang Madura banyak mengahasilakn kretifitas atau kerajianan tangan. Di antara kreatifitas orang Madura adalah Téker. Bagi orang Madura,Téker bukanlah hal yang asing. 

Téker  merupakan alas yang digunakan untuk forum-forum tertentu. Seperti tahlilan, selamatan, dan perkumpulan lainnya.  Alas ini terbuat dari duan siwalan dan ada juga dari daun pandan yang tumbuh di pinggir sungai, yang dirangkai begitu apik oleh pembuatnya. Pengrajin téker ini mayoritas ibu-ibu, namun juga ada sebagian dari kaum bapak-bapak. Alas tersebut memiliki manfaat bagi yang menggunakannya.

Pembaca pasti tahu sendiri bahwa, Madura dikenal dengan penghasil tembakau terbaik di tingkat nasional. Nah, temabakau yang di bawa ke gudang-gudang itu tidak telanjang, melainkan dibungkus dengan hasil karya orang madura yang disebut Téker. Téker yang digunakan untuk membungkus tembakau yang sudah kering, biasanya Téker yang terbuat dari daun siwalan. Karena, Téker yang terbuat dari daun siwalan ini lebih kuat dan lebih tebal dari Téker yang terbuat dari daun pandan.

Kerajinan Téker  ini, dapat menjadi salah satu penambah pendapatan bagi pembuatnya. Mengenai harga, tidak menentu. Kalau yang terbuat dari daun siwalan, harga akan lebih mahal jika sudah musim panen tembakau. Pada saat musim  tembakau, harga Téker ini bisa mencapai 25 ribu sampai 45 ribu per lembar. Sedangkan yang terbuat dari daun pandan, harganya lebih murah dari Téker yang tebuat dari daun siwalan. Paling mahal hanya sampai di harga 30 ribu per lembar.  Harga Téker yang terbuat dari daun pandan tidak mengikuti musim tembakau. Karena Téker ini tidak bisa digunakan untuk membungkus tembakau yang sudah kering untuk dibawa ke gudang. Ukurannya lebih kecil.


Uniknya, Téker ini juga bisa digunakan untuk alas tidur. Namun, orang yang menggunakan Téker untuk alas tidurnya ini, mereka yang tergolong pada ekonomi yang rendah. Tapi, yang tergolong ekonomi tinggi sekalipun, ada juga yang menggunakannya untuk alas tidur mereka. Sayangnya, sering berkembangnya zaman, Téker sudah tidak dilirk lagi oleh masyarakat Madura dan produksi Téker pun semakin berkurang. Alasannya, banyak masyakat Madura yang sudah terlanjur nyaman dengan alas yang terbuat dari kain. Selain itu, pengrajinnya juga sudah minim. Pengarajin Téker ini adalah mereka yang sudah lansia bahkan banyak yang meninggal. Semoga generasi muda pulau garam masih peduli untuk merawat kerajinan tersebut dengan belajar, sehingga dapat memproduksi Téker.



Author : Gafur Abdullah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com