Syarat Dasar Mencari Ilmu Dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

Advertisement

Ads

Syarat Dasar Mencari Ilmu Dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

Sabtu, 20 Februari 2016

Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap muslim. Tidak peduli laki-laki ataupun perempuan. Sebab ilmu merupakan bekal yang sangat penting bagi kita dalam kembali kepada fitrah sebagai manusia. Menuntut ilmu menjadi sarana agar bisa  mengenal diri sendiri, Allah, orang lain serta lingkungan. Sehingga kita bisa hidup sebagai manusia sejati baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan bahwa ada 6 syarat dasar yang harus dimiliki dalam mencari ilmu. Dalam nadham kitab tersebut disebutkan bahwa orang yang mencari ilmu harus cerdas. Kemudian bersemangat atau berambisi, sabar, ada modal materi, ada guru dan harus ditempuh dalam waktu yang tidak sebentar.

Cerdas
Yang dimaksud cerdas dalam hal ini bukan harus cepat memahami sesuatu. Bukan pula diartikan mengetahui banyak hal. Yang dimaksud cerdas dalam hal ini ialah, setidaknya bisa membedakan barang, warna, baik-buruk dan sebagainya. Intinya, otak masih bisa berfungsi untuk memperlajari sesuatu.

Semangat Atau Berambisi
Ada sebuah pepatah Bahasa Madura yang diplesetkan dari Bahasa Arab. Bunyinya ialah “Mangkana awwaluhu maksah, pakana akhiruhu bisah”. Maksudnya ialah, siapapun yang memaksakan diri, pada akhirnya dia akan bisa. Begitu pula dalam aturan mencari ilmu. Siapa yang bersemangat dan berambisi dalam mencari ilmu, ia akan mendapatkannya. Meski ia harus gagal memahami beberapa kali, pada ahirnya ia akan berjumpa pada kesuksesan.

Berbeda dengan orang yang mencari ilmu tanpa ambisi atau semangat. Ia tidak memiliki alasan yang kuat dalam mencari ilmu. Ibarat hidup, ia menjalani kehidupan seperti mayat hidup atau zombie. Orang yang tidak memiliki semangat dalam menuntut ilmu hanya berjalan ke tempat belajar tanpa memiliki alasan dan tujuan. Ia hanya menjalankan rutinitas sehari-hari. Tidak lebih dari itu.

Sabar
Ada banyak sekali cobaan atau ujian dalam mencari ilmu. Mulai dari ujian yang datang dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, teman dan cobaan-cobaan lainnya. Kesulitan dalam memahami pembelajaran tertentu juga merupakan bagian dari cobaan. Jika kita tidak sabar dan menyerah, maka kita akan gagal untuk memperoleh ilmu.

Ada Modal
Diakui atau tidak, modal dalam menuntut ilmu pun tidak sedikit. Selain modal cerdas, sehat dan sempat, juga perlu modal materi. Pada zaman sekarang, modal materi digunakan untuk membayar SPP, membeli buku dan perlengkapan belajar lainnya. Jika modal tersebut tidak terpenuhi, maka kita akan mengalami kesulitan dalam mencari ilmu.

Terdapat Guru
Syarat berikutnya dalam mencari ilmu ialah adanya guru. Pada zaman informatif seperti sekarang, kita bisa saja belajar melalui buku dan internet. Namun kita juga tidak bisa meninggalkan kebutuhan akan guru. Ini demi ketersambungan ilmu yang akan kita peroleh dengan pemiliki ilmu itu sendiri; yakni Allah. Apalagi saat ini, banyak kasus orang yang keliru dalam memahami ilmu lantaran tidak adanya guru yang membimbing.

Jadi fungsi guru tidak sepenuhnya menjadi sumber belajar. Melainkan menjadi pembimbing agar proses dan hasil belajar yang kita jalani dan peroleh, sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah. Sedangkan bila ilmu itu berasal dari sumber selain Rasulullah, agar pemahaman kita sama dengan orang yang memperoleh ilmu tersebut pertama kali. Pada akhirnya, guru berfungsi sebagai penuntun dalam perjalanan kita mencari ilmu agar tidak tersesat.

Waktu yang Tidak Sebentar

Belajar merupakan kewajiban sepanjang hayat. Tidak ada batasan usia, waktu dan tempat. Kita menempuh perjalanan panjang dalam mencari ilmu, yang hanya akan selesai saat kita sudah masuk ke liang lahat. Kesibukan akan rutinitas sehari-hari bukan lah alasan bagi kita untuk berhenti mencari ilmu. Sebab ilmu bisa diperoleh darimana saja. Termasuk dari kehidupan kita sehari-hari. Tergantung seberapa cerdas kita bisa menangkap hikmah di balik setiap perjalanan hidup kita, lingkungan dan orang lain.




Author : Unzilatur Rahmah