Pribahasa Bahasa Madura dan Artinya (6)

Advertisement

Ads

Pribahasa Bahasa Madura dan Artinya (6)

Unzilatur Rahmah
Sabtu, 20 Februari 2016


  1. Akanta pappaan takaé’ : Seperti pappaan (tembakau yang dipapah orang tua) tersangkut (diucapkan kepada sesuatu atau seseorang yang tidak berguna. Tidak bisa diandalkan)
  2. Élmo paghârân : ilmu pagar (ilmu yang diperoleh tanpa disengaja atau tanpa guru dan kitab)
  3. Najhemmé duri : Mempertajam duri (Memperparah permusuhan)
  4. Nga’énga’ dhâbâ’: Ingat-ingat anak katak (Tidak begitu mengingat)
  5. Ngakan asella aré: Makan bercampur hari (Sehari makan, sehari lagi tidak makan. Penyebabnya ialah kesulitan ekonomi sampai-sampai makan dua hari sekali)
  6. Oréng jhujhur maté ngonjhur: Orang jujur mati berselonjor (Orang yang jujur, hidup matinya paling mujur)
  7. Péapé tangghiling maté : (Diucapkan kepada orang yang bermuka dua)
  8. Ra’para’ élong : Dekat-dekat hidung (Hampir sampai pada hari H suatu maksud atau acara)
  9. Rampa’ naong bâringin korong : Rimbun teduh beringin sangkar (Diucapkan kepada orang kaya yang suka menolong orang yang mengalami kesusahan)
  10. Sa-jhâng-lanjhânga talé tak nyapo’ lanjhânga caca : Sepanjang-panjangnya tali tidak akan mampu menandingin panjangnya pembicaraan (Berita yang cepat sekali tersebar dan menjadi buah bibir)
  11. Séla bhân-embhân ghi’ eghindungi : Sudah memangku masih digendongi pula (Pekerjaan banyak yang dilimpahkan ke satu orang)
  12. Ta’ nyerrep bujâ accem : Tidak menyerap garam asam (Tidak mau menerima nasihat)
  13. Ta’ tao bârâ’ ta’ tao témor : Tidak tahu barat tidak tahu timur (Orang yang bingung di daerah asing dan tidak memiliki kenalan sama sekali)
  14. Ta’ tao lébât é bâbâna bâringin : Tidak pernah lewat di bawah pohon beringin (Orang yang tidak tahu tatakrama)
  15. Tadâ’ alas sé tadâ’ macanah: Tidak ada hutan yang tidak ada harimaunya (tidak ada tempat yang tidak ada sesepuhnya atau seseorang yang dihormati)
  16. Tadâ’ apoy tak akokos : Tidak ada api yang tidak berasap (tidak ada kejadian yang tidak menjadi bahan pembicaraan orang)
  17. Tadâ’ dhâlâng sé tadâ’ lakonah : Tidak ada dalang yang tidak memiliki pekerjaan (Orang rajin pasti ada saja yang bisa dikerjakan)
  18. Tadâ’ ghentong nyello’ ka canténg : tidak ada gentong air yang mengambil air dari gayung (tidak ada orang tua yang mengharap bantuan materiil dari anak)
  19. Tak kenning ajhum polé : Tidak bisa diluruskan atau dirapikan lagi (Sesuatu yang tidak bisa diperbaiki seperti semula. Atau dua orang yang tidak bisa diakurkan kembali)
  20. Tangghâ’ tapé jhâ’ opaé : Biarkan tampil tapi tidak perlu diupah (Dengarkan pembicaraannya tapi tidak perlu dipercaya)Akanta pappaan takaé’ : Seperti pappaan (tembakau yang dipapah orang tua) tersangkut (diucapkan kepada sesuatu atau seseorang yang tidak berguna. Tidak bisa diandalkan)
  21. Élmo paghârân : ilmu pagar (ilmu yang diperoleh tanpa disengaja atau tanpa guru dan kitab)
  22. Najhemmé duri : Mempertajam duri (Memperparah permusuhan)
  23. Nga’énga’ dhâbâ’: Ingat-ingat anak katak (Tidak begitu mengingat)
  24. Ngakan asella aré: Makan bercampur hari (Sehari makan, sehari lagi tidak makan. Penyebabnya ialah kesulitan ekonomi sampai-sampai makan dua hari sekali)
  25. Oréng jhujhur maté ngonjhur: Orang jujur mati berselonjor (Orang yang jujur, hidup matinya paling mujur)
  26. Péapé tangghiling maté : (Diucapkan kepada orang yang bermuka dua)
  27. Ra’para’ élong : Dekat-dekat hidung (Hampir sampai pada hari H suatu maksud atau acara)
  28. Rampa’ naong bâringin korong : Rimbun teduh beringin sangkar (Diucapkan kepada orang kaya yang suka menolong orang yang mengalami kesusahan)
  29. Sa-jhâng-lanjhânga talé tak nyapo’ lanjhânga caca : Sepanjang-panjangnya tali tidak akan mampu menandingin panjangnya pembicaraan (Berita yang cepat sekali tersebar dan menjadi buah bibir)
  30. Séla bhân-embhân ghi’ eghindungi : Sudah memangku masih digendongi pula (Pekerjaan banyak yang dilimpahkan ke satu orang)
  31. Ta’ nyerrep bujâ accem : Tidak menyerap garam asam (Tidak mau menerima nasihat)
  32. Ta’ tao bârâ’ ta’ tao témor : Tidak tahu barat tidak tahu timur (Orang yang bingung di daerah asing dan tidak memiliki kenalan sama sekali)
  33. Ta’ tao lébât é bâbâna bâringin : Tidak pernah lewat di bawah pohon beringin (Orang yang tidak tahu tatakrama)
  34. Tadâ’ alas sé tadâ’ macanah: Tidak ada hutan yang tidak ada harimaunya (tidak ada tempat yang tidak ada sesepuhnya atau seseorang yang dihormati)
  35. Tadâ’ apoy tak akokos : Tidak ada api yang tidak berasap (tidak ada kejadian yang tidak menjadi bahan pembicaraan orang)
  36. Tadâ’ dhâlâng sé tadâ’ lakonah : Tidak ada dalang yang tidak memiliki pekerjaan (Orang rajin pasti ada saja yang bisa dikerjakan)
  37. Tadâ’ ghentong nyello’ ka canténg : tidak ada gentong air yang mengambil air dari gayung (tidak ada orang tua yang mengharap bantuan materiil dari anak)
  38. Tak kenning ajhum polé : Tidak bisa diluruskan atau dirapikan lagi (Sesuatu yang tidak bisa diperbaiki seperti semula. Atau dua orang yang tidak bisa diakurkan kembali)
  39. Tangghâ’ tapé jhâ’ opaé : Biarkan tampil tapi tidak perlu diupah (Dengarkan pembicaraannya tapi tidak perlu dipercaya)




Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com