Pajhudhun, Rumah Burung Dara Khas Madura

Advertisement

Ads

Pajhudhun, Rumah Burung Dara Khas Madura

Unzilatur Rahmah
Sabtu, 20 Februari 2016

Tak terkecuali di Madura, masyarakatnya pun memiliki hobi yang beragam. Mulai dari memancing, hobi membuat kerajinan serta hobi-hobi yang lain. Termasuk juga hobi memelihara unggas atau burung dan sejenisnya. Beberapa waktu lalu, Love Bird juga sempat booming di tengah-tengah pecinta burung. Burung yang tidak bisa jauh dari pasangannya ini di Madura disebut Labhed.

Namun sejak dulu, para pecinta burung di Madura sudah menyukai beragam jenis burung. Salah satunya ialah Burung Dara. Burung Dara juga menjadi simbol pasangan layaknya Love Bird. Di undangan-undangan pernikahan, Burung Dara dijadikan simbol pasangan yang sedang berbahagia.

Kesukaan masyarakat Madura dalam memelihara Burung Dara, menciptakan keunikan tersendiri. Diantaranya ialah dengan adanya rumah Burung Dara yang disebut Pajhudhun. Sesuai dengan istilahnya, Pajhudhun, dalam Bahasa Madura berasal dari kata Jhuduh (jodoh). Pajhudhun berarti tempat perjodohan. Istilah Pajhudhun ini memang khusus untuk rumah burung dara.
Pajhudhun ditinggali Burung Dara yang sudah siap kawin. Meski Burung Dara yang lain juga tinggal di sangkar tersebut. Selain sebagai rumah untuk para pasangan Burung Dara, Pajhudhun nantinya juga dijadikan sebagai tempat bertelur Burung Dara betina.

Pajhudhun terbuat dari bahan kayu dan bambu. Dirakit dengan menggunakan paku. Atapnya sama seperti rumah pada umumnya, yakni menggunakan genteng tanah liat. Bentuknya sebetulnya sama dengan kurung unggas pada umumnya. Namun di bagian atap didesain lebih mirip rumah.

Ada dua jenis Pajhudun yang bisa kita temui. Pertama, Pajhudhun yang tingginya hanya seukuran tinggi kita (manusia), atau lebih tinggi sedikit. Kedua, Pajhudhun yang tingginya dibuat menjulang ke angkasa. Biasanya ditinggikan menggunakan batang bambu. Untuk mencapai Pajhudhun yang menjulang tinggi, harus menggunakan tangga. Desain Pajhudun yang menjulang tinggi ini biasanya lebih disukai oleh Burung Dara. Karena dapat melihat alam bebas dari ketinggian, sekaligus memudahkan Burung Dara ketika akan terbang mengangakasa.

Belakangan ini, semakin sedikit orang yang mau memelihara Burung Dara. Ini karena memelihara Burung Dara sekadar menjadi hobi. Belum ada inisiatif agar hobi tersebut dapat mendatangkan penghasilan yang besar. Boro-boro penghasilan besar. Kadang, untuk memberi makan Burung Dara saja harus menyisihkan jagung yang hendak dimakan sendiri. Ini karena sampai saat ini, tidak ada permintaan Burung Dara dalam jumlah besar. Sehingga tidak ada masyarakat yang mau membudidayakan Burung Dara dalam jumlah besar.


Karena semakin sedikit orang yang mau memelihara Burung Dara, keunikan Pajhudhun pun semakin menghilang. Dalam satu desa, hanya ada beberapa orang saja yang masih memelihara hobi merawat Burung Dara. Jumlahnya pun bisa dihitung. Sehingga saat ini, sudah cukup sulit menemukan Pajhudhun dengan desain menjulang tinggi ke angkasa.



Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com