Makna Istilah “Téngka Tade’ Sakolaennah”

Advertisement

Ads

Makna Istilah “Téngka Tade’ Sakolaennah”

Unzilatur Rahmah
Sabtu, 20 Februari 2016

Kesan masyarakat luar, Masyarakat Madura memang terkenal dengan sikap kasarnya. Kalau dibanding-bandingkan dg masyarakat asli Jawa, masyarakat Madura memang sedikit lebih kasar. Baik dari segi cara berbicara maupun bertindak. Tidak heran, tanah Madura yang lebih panas dibandingkan tanah Jawa, membentuk masyarakat Madura menjadi lebih kasar.

Namun demikian, kalau berbicara tatakrama dalam kehidupan bermasyarakat, Madura tidak kalah dengan etnis manapun. Madura juga menjunjung tinggi nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Ini dapat dilihat dari adanya pepatah ‘téngka tade’ sakolaanna’ (Tingkah laku tidak ada sekolahnya).
Kita telusuri dalam kehidupan bermasyarakat di Madura. Téngka atau tingkah laku dalam kehidupan di Madura, ialah pola interaksi yang benar dalam kehidupan bersosial. Baik bersosial dengan teman, keluarga, tetangga maupun masyarakat sekitar pada umumnya. Istilah téngka lebih mendekati kesamaan dengan istirah tatakrama.

Sama dengan aturan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat di etnis lain, téngka merupakan aturan tak tertulis. Namun secara umum masyarakat menyetujui aturan-aturan tersebut. Buktinya sebagian besar masyarakat Madura berusaha sebisa mungkin agar tidak menyalahi tatakrama dalam bersosial. Entah karena terpaksa atau karena kesadaran diri.

Téngka dalam kehidupan bermasyarakat di Madura misalnya adab-adab dalam bertamu. Aturan yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat. Termasuk juga adab ketika hendak melaksanakan hajatan besar, dan lain sebagainya.

Istilah ‘téngka tade’ sakolaanna’ berarti bahwa tidak ada satu bangku sekolah pun yang mengajari masyarakat dalam hal téngka. Sebab ia merupakan aturan tak tertulis. Sedangkan pembelajaran di sekolah kebanyakan sifatnya tertulis. Untuk belajar téngka, seseorang yang akan beranjak pada usia dewasa, harus pandai-pandai mengamati. Mengamati setiap tingkah laku yang ada di masyarakat. Dari mengamati, selanjutnya ialah membedakan mana yang dibenarkan oleh masyarakat, dan mana yang tidak.

Ukuran dibenarkan atau tidaknya satu tingkah laku, bisa dilihat dari hukuman yang diberikan. Sekali ada masyarakat yang melanggar aturan-aturan tak tertulis yang berlaku, maka ia akan dihukum oleh masyarakat. Hukumannya lebih menyakitkan dari sekadar dipukuli. Karena masyarakat akan menjadikan orang yang melanggar aturan sebagai bahan pembicaraan yang tak pernah usai. Yang lebih parah, orang yang melanggar tata aturan dalam masyarakat akan di-cap tidak baik.


Di kehidupan nyata, seseorang yang mulai beranjak dewasa harus belajar. Jika ada perilaku seseorang yang mendapat hukuman dari masyarakat, maka itu tidak perlu ditiru. Sebaliknya jika ada seseorang menunjukkan perilaku yang membuatnya selalu dipuji, maka itu patut ditiru. Dalam menjaga tatakrama dalam masyarakat, tujuan sebenarnya bukan untuk dipuji. Melainkan demi menjaga kestabilan dalam kehidupan sosial kita. Tentu juga demi menjaga nama baik keluarga? Bukankah bagi masyarakat Madura, nama baik keluarga adalah segalanya?


Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2016 - Ahmad/eMadura.com