Keutamaan Niat

Advertisement

Ads

Keutamaan Niat

Sabtu, 20 Februari 2016

Jika kita pernah menontoh kisah Sunan Kalijaga, kita akan mempertanyakan esensi niat. Dalam kisah Sunan Kalijaga yang ditayangkan di televisi, sebelum menjadi sunan, beliau mencuri bahan makanan milik ayahnya demi memberi makan rakyat miskin di sekitarnya. Niatnya memang baik, namun dilakukan dengan cara yang salah. Lalu bagaimanakah esensi niat yang sebenarnya?

Dalam kitab Safinatun Najah, disebutkan bahwa pengertian niat ialah menyengaja sesuatu dibarengkan dengan perbuatannya. Tempatnya niat ialah di dalam hati. Seperti saat orang hendak Shalat. Lafadh niat di lisan sebelum takbiratul ihram, sedangkan niat di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Niat sebagaimana pengertian dalam Kitab Safinatun Najah ini berlaku dalam pelaksanaan ibadah-ibadah tertentu. Seperti shalat, wudhu, mandi, siwak, haji dan sebagainya.

Lebih dari itu, niat memiliki arti yang sangat penting dalam urusan manusia sehari-hari. Niat memiliki beberapa keutamaan yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya. Berikut ini beberapa keutamaan niat yang perlu kita ketahui bersama.

Niat Merupakan Penentu Segala Urusan
Ibadah wajib jika diniatkan sunnah, maka itu tidak sah. Setiap perkara pada dasarnya mubah. Sampai ada dalil yang menjelaskan keharaman, sunnah, makruh atau wajibnya perkara tersebut. Perbuatan mubah sekalipun jika diniatkan ibadah maka akan bernilai ibadah. Seperti kita membaca buku dengan niat mencari ilmu. Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap orang. Maka aktivitas membaca buku dapat dikategorikan sebagai ibadah.

Begitu pula dengan bekerja sehari-hari. Jika kita niatkan sebagai sarana untuk berjuang untuk kehidupan pribadi dan keluarga, maka itu dapat bernilai ibadah. Termasuk juga perbuatan-perbuatan mubah lain seperti menanam pohon, makan, minum, tidur dan lain sebagainya.

Niat Itu Kerjanya Hati
Dalam ibadah-ibadah tertentu, sebagian ulama berpendapat bahwa niat memang harus dilafalkan. Namun semua ulama sepakat bahwa niat harus dikerjakan oleh hati. Itu artinya, kehendak hati lebih utama dibandingkan apa yang kita ucapkan. Para imam fiqih madzhab sunni berpendapat bahwa ibadah tidak akan dinilai oleh Allah selama niat belum diikrarkan dalam hati.

Niat Karena Allah Merupakan Niat yang Paling Benar
Kita bisa saja memiliki motivasi lain dalam beraktivitas dan beribadah sehari-hari. Namun tidak ada niat yang dihitung sebagai satu kebaikan kecuali semata-mata niat karena Allah. Jika kita beribadah dengan niat yang lain, maka sama saja kita menduakan Allah dengan yang lain. Dan itu merupakan bentuk kesyirikan. Boleh saja sesuatu menjadi motivasi atau penyemangat dalam ibadah, belajar dan bekerja. Tapi tetap sucikan niat kita hanya karena Allah.

Dalam Kebaikan, Niat Saja Sudah Masuk Dalam Catatan Amal
Yang menjadi spesial dari niat, Allah akan mencatat niat kita untuk berbuat baik meski itu gagal dilakukan. Dengan niat saja, kita sudah memiliki satu catatan amal kebaikan. Tentu harus dibarengi usaha untuk merealisasikannya, meskipun pada akhirnya gagal. Jika kita niat saja tanpa ada semangat untuk melakukan kebaikan, sama saja kita berbohong.

Berbeda dengan perbuatan jelek. Meski pada pagi hari kita berniat melakukan kejelekan, itu tidak akan dicatat sebagai satu amal buruk sampai kita benar-benar melakukannya. Sungguh Allah maha bijaksana dengan aturan niat yang sederhana ini.

Niat Baik Hanya Dibenarkan Untuk Perbuatan Baik
Meski niat kita baik, namun perbuatannya tidak baik, tetap saja itu sebuah keburukan. Meski benar bahwa niat penentu perbuatan, namun juga tidak boleh disalahgunakan. Niat harus tetap digunakan pada tempat yang semestinya. Tidak boleh sembarangan.

Untuk membuat rutinitas sehari-hari kita bernilai ibadah, semua tergantung jenis perbuatan dan niat kita dalam melakukannya. Perbuatan baik yang tidak diniatkan ibadah, tidak akan bernilai kebaikan di hadapan Allah. Meski demikian, bukan berarti bahwa perbuatan buruk akan berubah menjadi baik hanya karena niat. Jadi meluruskan dan mantapkan niat, perbaiki amal kita merupakan jalan untuk menjadi hamba Allah yang sejati.


Author : Unzilatur Rahmah