Dari Ilmu Hingga Ikhlas

Advertisement

Ads

Dari Ilmu Hingga Ikhlas

Unzilatur Rahmah
Sabtu, 20 Februari 2016

Salah satu kewajiban kita sebagai manusia ialah mencari ilmu serakus mungkin. Kewajiban mncari ilmu mulai dari sejak lahir hingga masuk ke liang lahat. Rasulullah juga tidak mewariskan harta kepada para penerusnya. Rasulullah hanya mewariskan ilmu. Karena hanya ilmu yang tidak akan pernah habis meski telah dibagikan berkali-kali kepada orang lain.

Ilmu dari Rasulullah diwariskan secara turun-temurun hingga tiba pada ulama masa kini dan sampai kepada kita. Selain itu, Rasulullah juga tidak pernah memberi batasan kepada orang untuk mencari jenis ilmu. Selama ilmu tersebut memberikan manfaat besar bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah bahkan memerintahkan umatnya untuk mencari ilmu walau ke Negeri Cina. Meski pada masa Rasulullah, masyarakat Cina bukanlah umat Muslim. Artinya, meski ilmu itu dipelajari oleh orang non-Muslim, kita tidak dilarang untuk mempelajarinya selama untuk kemaslahatan. Sebab hakikatnya, semua ilmu berasal dari Allah. Hanya saja sampai pada tangan-tangan yang berbeda.

Namun lebih dari itu, ilmu bukan sekadar pengetahuan penambah wawasan. Apalagi ilmu agama. Untuk bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Berikut ini beberapa hal yang erat kaitannya dengan ilmu yang perlu kita pelajari bersama:

Hakikat Ilmu adalah Amal
Ada sebuah pepatah yang artinya “Dengan ilmu, hidup menjadi mudah. Dengan iman, hidup menjadi terarah”. Disiplin ilmu apapun pastinya berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun ilmu juga tidak akan memberikan kemudahan jika ia tidak diamalkan. Jadi tidak ada gunanya kita menumpuk ilmu banyak-banyak. Kalau akhirnya kita justru semakin sulit dalam menjalani kehidupan.

Seorang yang berilmu juga tidak akan disebut ilmuan jika ia tidak bisa memanfaatkan disiplin ilmunya. Dalam Islam, tidak ada orang yang disebut ulama kecuali ia telah mampu mengamalkan ilmu yang dimiliki. Baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Ilmu tanpa amal ibarat tumpukan emas di bawah tanah. Meski sangat berharga, tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun.

Hakikat Amal adalah Ikhlas
Setelah orang mengamalkan ilmu yang ia miliki, maka ada satu hal penting lagi yang tak boleh kita abaikan. Ia adalah ikhlas. Amal orang yang berilmu tapi tidak ikhlas, sama saja bohong. Tetap tidak memberi manfaat bagi dirinya sendiri. Ikhlas itu sendiri juga bagian dari ilmu yang harus kita amalkan pula.

Bersikap ikhlas dalam beramal memilki makna yang mendalam. Ikhlas dalam prosesnya mengamalkan untuk diri sendiri. Ikhlas saat berbagi ilmu kepada orang lain dengan tidak mengharap imbalan apapun. Ikhlas dengan hanya mengharap balasan dari Allah. Meski bila dihargai, ilmu itu memiliki nilai materi yang begitu tinggi. Namun ikhlas itu, menyampaikan ilmu tidak semata-mata mengharap imbalan berupa materi. Melainkan imbalan yang jauh lebih mulia di sisi Allah.


Itulah hakikat ilmu, amal dan ikhlas yang perlu kita renungi bersama-sama. Tidak ada yang bisa menilai sejauh mana kadar keilmuan kita sampai kita mengamalkan. Dan hanya Allah yang bisa memutuskan amal tersebut diterima atau tidak. Itu tergantung pada keikhlasan kita dalam mengamalkan ilmu.



Author : Unzilatur Rahmah