Rahasia Kekuatan Ekonomi Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Rahasia Kekuatan Ekonomi Masyarakat Madura

Unzilatur Rahmah
Jumat, 20 November 2015

Pada kenyataannya, alam Madura cukup kaya untuk memperkaya masyarakat non-Madura. Sedangkan masyarakat Madura sendiri berada dalam tataran. Dalam bisnis tembakau kering contohnya, pengusaha-pengusaha besar justru didominasi oleh masyarakat pendatang, khususnya cina. Masyarakat Madura sendiri hanya bisa menikmati setitik kecil penghasilan dari memeras keringat menanam tembakau. Dalam usaha pertambangan, yang pasti pemilik tambang minyak besar di Madura bukanlah masyarakat Madura.

Alam Madura memang cukup kaya. Namun untuk disebut kaya, masyarakat Madura memang tidak pantas. Karena mayoritas penduduknya berada di tataran ekonomi menengah ke bawah. Namun hebatnya, beberapa tahun lalu saat daerah lain di Indonesia dilanda paceklik hingga berujung pada penyakit busung lapar, hal itu tidak terjadi di Madura.

Masyarakat Madura memang cukup miskin kalau tolok ukur kekayaan adalah uang berlimpah. Namun ekonomi masyarakat Madura cukup kuat untuk sekadar mengatasi penyakit busung lapar. Termasuk pula menguatkan ekonomi keluarga agar saat membutuhkan uang yang cukup banyak, sebisa mungkin tidak berhutang. Hal ini disebabkan masyarakat Madura memiliki kekuatan ekonomi yang tidak dimiliki masyarakat daerah lain di Indonesia. Berikut ini rahasia kekuatan ekonomi masyarakat Madura:
  1. Umbi-umbian dapat tumbuh subur di Madura. Memang tidak semua lahan di Madura subur ditanami padi atau jagung. Namun demikian, masih ada umbi-umbian yang dapat tumbuh subur di  lahan jenis apapun. Selama hujan masih turun dan pupuk masih ada, umbi-umbian tersebut dapat menjadi makanan pokok pengganti beras dan jagung.
  2. Beternak sapi merupakan tabungan jangka panjang. Untuk menopang perekonomian keluarga, masyarakat Madura khususnya yang tinggal di pedesaan, sebagian besar memelihara sapi. Sapi yang dipelihara tidak lah banyak, antara 1 sampai 3 ekor per kandang. Namun dari sapi-sapi tersebut kebutuhan besar seperti ketika akan menyelenggarakan hajatan, memperbaiki rumah, cukup membantu.
  3. Terdapat sumber penghasilan musiman yang mampu menopang kebutuhan yang agak besar. Musim kemarau merupakan musim dimana masyarakat Madura dapat memiliki penghasilan yang lebih baik. Di daerah pesisir, garam dapat panen hingga beberapa kali. Sedangkan pemilik lahan di daerah sawah dan tegalan menanam tembakau. Bagi yang tidak menanam tembakau atau tidak memiliki tambak garam, dapat menjadi pekerja. Baik penggarap tambak atau kuli dalam proses panen tembakau.
  4. Masyarakat Madura masih mengenal ‘kebiasaan berhemat’. Masyarakat Madura yang sudah menikah, biasanya cenderung lebih berhemat dibandingkan mereka yang belum menikah. Ini karena orang yang sudah menikah lebih memikirkan masa depan dan orang di sekitarnya. Hidup hemat juga diterapkan oleh masyarakat Madura ketika kondisi keuangan sedang sulit.
Author : Unzilatur Rahmah | Gambar : © 2015 - Ahmad/eMadura.com