Kumpulan Puisi D Zawawi Imron ( Bagian 1 )

Advertisement

Ads

Kumpulan Puisi D Zawawi Imron ( Bagian 1 )

SAKERA MEDIA
Kamis, 05 November 2015


SUNGAI KECIL

sungai kecil, sungai kecil! di manakah engkau telah kulihat?

antara cirebon dan purwakerto atau hanya dalam mimpi?

di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku dan di tepimu daun-daun

bergoyang menaburkan sesuatu yang kuminta dalam doaku

sungai kecil, sungai kecil

terangkanlah kepadaku, di manakah negeri

asalmu?

di atasmu akan kupasang jembatan bambu agar para petani mudah

melintasimu dan akan kubersihkan lubukmu agar para perampok

yang mandi merasakan juga sejuk airmu

sungai kecil, sungai kecil! mengalirlah terus ke rongga jantungku

dan kalau kau payah, istirahatlah ke dalam tidurku! Kau yang jelita

kutembangkan buat kekasihku.



1980


Zikir
Zikir
Alif, alif, alif,!
Alifmu pedang di tanganku
Susuk di dagingku, kompas di hatiku
Alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
Hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan
Terang
Hingga aku
Berkesiur
Pada
Angin kecil
Takdir-Mu

Hompimpah hidupku, hompimpah matiku
Hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah
Hompimpah!
Kugali hatiku dengan linggis alifmu
Hingga lahir mataair, jadi sumur, jadi sungai,
Jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang
Mengerang menyebut alifmu
Alif, alif, alif!

Alifmu yg Satu
Tegak dimana-mana


Ibu

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting

hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau

sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan

lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku

dan ibulah yang meletakkan aku di sini

saat bunga kembang menyemerbak bau sayang

ibu menunjuk ke langit, kemundian ke bumi

aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera

sempit lautan teduhtempatku mandi, mencuci lumut pada diri

tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh

lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku

kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan

namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu

lantaran aku tahuengkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal

Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala

sesekali datang padaku

menyuruhku menulis langit biru

dengan sajakku



1966