Ciri-ciri Akhir Musim Kemarau di Madura

Advertisement

Ads

Ciri-ciri Akhir Musim Kemarau di Madura

Unzilatur Rahmah
Sabtu, 07 November 2015

Saat ini, Madura sedang berada pada puncak musim kemarau. Tahun 2015 ini, musim kemarau di Madura berlangsung cukup lama. Tahun ini, kemarau berlangsung hampir selama 8 bulan. Sejak kemarau dimulai, nyaris tidak sedikit pun air mengalir dari langit. Di beberapa daerah sudah dituruni sedikit hujan, namun belum menyeluruh. Akhir musim kemarau di Madura memiliki ciri tersendiri. Berikut ini ciri-ciri akhir musim kemarau yang terjadi di Madura:
  1. Masyarakat mulai menyemai bibit cabai. Saat akhir musim kemarau, masyarakat biasanya sudah bersiap-siap menyambut musim hujan. Salah satunya ialah dengan menabur bibit cabai. Jika musim kemarau berlangsung lebih panjang lagi, air untuk menyiram bibit cabai tersebut semakin sulit. Apalagi bagi masyarakat yang mengandalkan aliran air sungai tadah hujan.
  2. Musim buah mangga dan nangka. Kita ketahui bersama, akhir kemarau berarti musim buah. Buah yang sedang booming ialah buah Mangga dan Nangka. Saat memasuki musim hujan, buah-buah yang masih tersisa mulai busuk terkena air hujan.
  3. Tumbuhan bunga bangkai atau cong-laccong mulai tumbuh. Di Madura, jenis bunga bangkai merupakan jenis yang pohonnya panjang. Dalam Bahasa Madura, disebut dengan cong-laccong. Salah satu tanda musim kemarau akan segera berakhir ialah tumbuhnya cong-laccong.
  4. Bibit umbi-umbian mulai bertunas. Masyarakat yang menyisakan bibit umbi-umbian baik berupa batang maupun umbinya sendiri, mulai bertunas. Jika bibit tersebut mulai bertunas, itu tandanya musim hujan akan segera datang.
  5. Cuaca menjadi sangat kering dan panas. Madura memang memiliki cuaca yang lebih kering dibandingkan pulau jawa. Keduanya memang sama-sama dikelilingi lautan. Namun karena wilayah Madura lebih sempit dibandingkan pulau Jawa, Madura memiliki cuaca lebih kering.
  6. Badan rentan sekali berkeringat. Meski cuaca cukup kering, tubuh menjadi rentan berkeringat. Terutama saat hari-hari akhir musim kemarau. Sebab di hari-hari akhir musim kemarau, angin yang awalnya kencang bertiup berubah lirih. Bahkan di beberapa kesempatan, seperti sama sekali tidak ada angin.
  7. Sungai tadah hujan dapat dipastikan akan mencapai puncak kering. Ada beberapa sungai yang murni mengandalkan aliran air hujan. Meski ada sumber airnya, sumber tersebut akan berhenti mengalir saat puncak musim kemarau. Jadinya, sungai akan dipenuhi sampah dedaunan dan bersih dari air.
  8. Banyak orang yang mencari sumber air. Di sepanjang musim kemarau, masyarakat berbondong-bondong mencari sumber air. Entah menggali sumur atau melakukan bor. Terutama masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih saat musim kemarau.



Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Ahmad/eMadura.com