Budaya ‘Latah’ Ternyata Juga Menyerang Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Budaya ‘Latah’ Ternyata Juga Menyerang Masyarakat Madura

Jumat, 20 November 2015

Sudah menjadi sebuah kewajaran, jika masyarakat berusaha mengikuti perkembangan era modern. Tentu mengikuti perkembangan di segala bidang. Mulai dari teknologi, seni hingga gaya hidup. Karena sudah menjadi fitrah manusia, tertarik terhadap sesuatu yang baru. Ini karena manusia dibekali dengan daya kreatif yang memiliki ketertarikan besar terhadap hal baru. Tentu sekaligus kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru.

Namun mengikuti perkembangan era modern berbeda arti dengan ikut-ikutan. Mengikuti perkembangan lebih berkonotasi pada keinginan untuk tahu perkembangan terkini. Tujuannya untuk memperkaya pengetahuan dan menjadikannya sebagai bahan pengembangan diri dan kualitas hidup.
Karena sebagai salah satu bahan untuk pengembangan diri dan peningkatan kualitas hidup, orang yang mengikuti perkembangan era modern, harus memiliki kecerdasan dalam filterisasi. Kecerdasan yang bisa digunakan untuk mengambil yang positif, dan membuang yang negatif.

 Namun kenyataannya, tak semua orang mampu mengikuti perkembangan dengan baik. Ada sebagian yang justru berujung pada kelatahan. Karena latah terhadap cepatnya perubahan, yang terjadi justru budaya ikut-ikutan. Tanpa tahu apa maksud, tujuan, asal-muasal dan kontribusinya untuk perbaikan diri dari hal yang ditiru.

Budaya latah ini juga bisa kita temukan pada masyarakat Madura. Ada sebagian remaja Madura yang terpengaruh terhadap perkembangan era modern. Utamanya dalam gaya hidup remaja. Jangan heran jika ada anak muda Madura yang bergaya berlebihan. Bahkan gaya tersebut cenderung tidak sesuai dan sangat berlebihan jika melihat latar belakang ekonomi keluarganya. Gaya anak muda latah bahkan jauh lebih lebay dibandingkan anak yang latar belakang ekonominya menengah ke atas.

Kelatahan tersebut dapat dilihat dari cara berpakaian, kendaraan dan cara mengendarainya, serta gadget yang dimiliki. Dari cara berpakaian, mengecat rambut, penggunaan aksesoris yang berlebihan baik laki-laki maupun perempuan. Termasuk penggunaan pakaian yang kurang pantas, hingga tidak mampu menyesuaiakan pakaian dengan lingkungan sekitarnya. Jika ditanya mengapa mereka berpakaian demikian, mereka hanya bisa menjawab ‘sekadar bergaya’. Tanpa tahu apa akibat dari tindakan tersebut.

Tidak perlu bertanya darimana mereka mendapatkan dana untuk gaya hidup demikian. Karena dapat dipastikan, sebagian besar dari para remaja masih bergantung pada orang tua. Meski ada beberapa remaja yang mampu mandiri, setidaknya dalam memenuhi kebutuhannya dalam bergaya.

Menyikapi hal ini, anak muda yang terkontaminasi budaya latah tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Ditinjau dari sisi psikologis, anak muda yang bergaya hidup berlebihan biasanya karena ingin mencari perhatian. Terutama perhatian dari lingkungan sekitarnya. Karena tidak bisa mendapat perhatian dengan sesuatu yang positif, ia mencari perhatian dengan sedikit menentang hal ideal dalam masyarakat. Anak atau remaja seperti ini biasanya kurang perhatian dari keluarga, khususnya orang tua.


Oleh karena itu, peran orang tua dan lingkungan sekitar sangat penting. Para orang tua harus sadar, bahwa anak butuh perhatian lebih dibandingkan pekerjaan dan lainnya. Dengan begitu, anak tidak akan mudah latah terhadap cepatnya perkembangan berbagai bidang. Dengan begitu, budaya ikut-ikutan pun bisa dicegah sejak di lingkungan keluarga.



Author : Unzilatur Rahmah | Gambar : © 2015 - Ahmad/eMadura.com