Makna Pribahasa Bâpa' Bâbhu' Ghuru Rato

Advertisement

Ads

Makna Pribahasa Bâpa' Bâbhu' Ghuru Rato

Unzilatur Rahmah
Rabu, 28 Oktober 2015

Indonesia merupakan bangsa multikultural. Banyak sekali suku bangsa dengan segala keanekaragaman budaya, tradisi dan bahasa. Madura merupakan salah satu suku yang juga memiliki tradisi, budaya dan bahasa tersendiri. Dari sudut pandang bahasa, Madura bahkan memiliki keanekaragaman yang cukup kaya.
Aspek kebahasaan di Madura juga mengenal pribahasa. Dalam Bahasa Madura, pribahasa disebut dengan parébâsân. Salah satu pribahasa atau parébâsân Bahasa Madura yang terkenal ialah kalimat "bâpa' bâbhu' ghuru rato". Secara bahasa, arti kalimat ini ialah 'ayah, ibu, guru raja'. Meski terdengar sederhana, kalimat "bâpa' bâbhu' ghuru rato" memiliki arti yang sangat luas. 

Kalimat "bâpa' bâbhu' ghuru rato" berisi pesan moral yang sangat berharga dalam kehidupan sehari-hari. Pribahasa tersebut berisi tatakrama dalam kehidupan sosial dengan sesama. Penyebutan ayah, ibu, guru dan raja (sekarang lebih dikenal dengan pemerintah) merupakan urutan orang-orang yang harus kita hormati. Hal ini menunjukkan kalau masyarakat Madura sangat peduli dengan tatakrama.

Penyebutan ayah ibu di kata pertama dan kedua, memberikan arti, bahwa orang tua merupakan orang yang paling utama harus dihormati. Orang tua merupakan orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Orang tua lah yang telah merawat kita hingga kita mampu berdiri di atas kaki sendiri. Ayah yang telah bekerja keras mencari nafkah untuk kita. Ibu yang telah berkorban darah mengandung, melahirkan dan menyusui kita. Setelah itu, mereka masih bertanggung jawab menanamkan pendidikan dasar untuk kita. Khususnya, menanamkan pendidikan budi pekerti atau akhlakul karimah.

Setelah ayah ibu, guru merupakan orang yang berikutnya harus dihormati. Karena guru, kita mengenal siapa diri kita. Karena guru pula, kita bisa menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang bisa mengemban amanah Tuhan, sebagai hamba dan khalifah di muka bumi. Guru lah yang mengenalkan kepada kita bahwa dunia itu tak sesempit lingkungan bermain kita. Guru pula yang telah mengorbankan waktunya demi mencerdaskan kita. Orang yang bahlan bukan sanak-familinya.

Orang yang harus kita hormati selanjutnya ialah raja. Dalam hal ini ialah pemimpin desa, kabupaten atau pemimpin negara yang diangkat secara legal. Karena bagaimanapun, kita hidup di tanah yang mereka pimpin.
Cara menghormati ayah ibu, guru dan raja esensinya sama. Intinya, kita harus mematuhi perintah mereka selama itu baik. Selama kita tidak memiliki opsi yang jauh lebih baik, kita memang sebaiknya menghormati dan mengikuti perintah mereka. Selama perintah mereka tidak untuk bermaksiat kepada Sang Pencipta.
Itulah makna pribahasa "bâpa' bâbhu' ghuru rato". Sebagai suku yang cukup peduli dengan tatakrama, dalam bahasa pun, masyarakat Madura menyelipi nilai-nilai sopan santun
tinggi.