Madura Sedang Musim Panen Tembakau

Advertisement

Ads

Madura Sedang Musim Panen Tembakau

Unzilatur Rahmah
Rabu, 02 September 2015

Beberapa saat lalu, para petani sibuk menanam dan merawat tembakau. Setelah perjuangan lelah memeras keringat, tiba saatnya masyarakat Madura memanen hasilnya. Saat ini, masyarakat Madura khususnya yang menanam tembakau, tengah sibuk memanen tembakau. Agustus-September memang merupakan bulan pesta panen Tembakau di Madura. Proses panen tembakau tidak sama dengan memanen padi maupun jagung. Proses panen tembakau dilakukan secara bertahap. Karena daun tembakau tidak tua sekaligus.

Dalam satu tahap panen tembakau, membutuhkan beberapa proses. Proses pertama ialah memetik daun tembakau. Memetik daun tembakau dimulai dari daun paling bawah. Dauh bawah yang sudah mengering biasanya dibiarkan saja. Dauh paling bawah yang sudah mengering itu dibuat grusuk. Grusuk sama-sama laku hanya saja lebih murah dibandingkan daun tembakau normal.

Proses kedua ialah mematangkan daun hingga berwarna kuning atau disebut ngukep. Lama ngukep daun tembakau berkisar 2 sanpai 3 hari. Tergantung daya tahan daun. Daun tembakau bagus akan menguning setelah didiamkan selama 3 hari. Namun daun tembakau yang jelek, bisa tetap berwarna hijau, bisa juga membusuk.

Proses selanjutnya ialah menggulung daun tembakau. Selama proses menggulung, yang perlu diperhatikan ialah ukuran gulungan tidak boleh terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Bagian-bagian daun yang sudah membusuk harus dibuang. Begitu pula tangkai daun yang besar. Agar tidak menimbulkan masalah ketika menimbulkan masalah ketika proses pemotongan. Kebanyakan orang yang menggulung tembakau ialah kaum perempuan. Karena merupakan jenis pekerjaan ringan.

Selanjutnya ialah memotong gulungan daun dalam bentuk rajangan. Proses merajang daun tembakau menggunakan alat yang disebut ‘pamasaten’. Orang yang memotng tembakau terdiri dari kaum laki-laki. Karena merupakan jenis pekerjaan yang memakan tenaga.

Proses berikutya ialah menata tembakau rajangan di atas bedek yang disebut arẽt-rẽt atau najhe’. Tembakau rajangan ditata tipis di atas bedek atau bidhik agar ketika dijemur lekas kering. Orang yang arẽt-rẽt atau najhe’ bisa laki-laki bisa pula perempuan.

Proses selanjutnya ialah menjemur tembakau rajangan yang sudah ditata tipis di atas bedek. Setelah dijemur setengah hari, tembakau dibalik. Sehingga bagian bawah juga diterpa langsung oleh panas. Tembakau dijemur selama kurang lebih 3 hari. Saat proses penjemuran ini lah, para pedagang tembakau kering biasanya akan melihat kualitas tembakau. Jika cocok akan terjadi tawar-menawar harga sesuai dengan kualitas tembakau dan harga tembakau pada saat itu.

Setelah dijemur kering, tembakau kering diangin-anginkan hingga sedikit lembek. Ini dilakukan untuk menghindari tembakau hancur saat dibungkus. Selanjutnya tembakau dibungkus menggunakan tikar untuk kemudian diangkut ke rumah pemiliknya. Jika sudah laku di saat proses penjemuran, tembakau akan langsung ditimbang dan diangkut oleh pedagang tembakau kering.

Proses memanen tembakau hingga membuatnya menjadi uang memerlukan proses panjang. Tak heran jika para petani kemudian merasa bangga ketika tembakau hasil kerja kerasnya laku dengan harga mahal.




Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Ahmad/eMadura.com