Tradisi Lebaran Ketupat, Lebaran Bagi Orang yang Berpuasa Syawal

Advertisement

Ads

Tradisi Lebaran Ketupat, Lebaran Bagi Orang yang Berpuasa Syawal

Unzilatur Rahmah
Kamis, 06 Agustus 2015

Di berbagai daerah di Indonesia, lebaran atau hari raya Idul Fitri dirayakan dengan cara berbeda-beda. Begitu pula di Madura; Idul Fitri dirayakan sesuai dengan ciri khas daerahnya masing-masing. Di kota, desa, antar desa, bahkan tiap daerah dalam satu desa, memiliki cara masing-masing untuk merayakan Idul Fitri.

Di seluruh wilayah Madura, perayaan Idul Fitri diikuti dengan perayaan Lebaran Ketupat atau Tellasen Petto’ (Lebaran hari ke-7). Jika di daerah luar Madura ketupat menjadi menu utama saat Idul Fitri, hal itu tidak berlaku di Madura. Sebab di Madura memiliki hari raya tersendiri untuk ketupat; Lebaran Ketupat.

Ya, ketupat merupakan ciri khas utama Lebaran Ketupat di Madura. Penyajian Ketupat tidak dengan opor ayam seperti di Jawa. Ketupat disajikan dengan dijadikan rujak, campur atau rujak campur. Saat menjelang Lebaran Ketupat, masyarakat yang memiliki pohon siwalan dan kelapa akan berbondong-bondong menjual ketupat dalam jumlah besar. Hasil penjualan ketupat tersebut digunakan untuk membeli daging dan lainnya, sebagai kelengkapan Lebaran Ketupat.

Secara makna, Lebaran Ketupat sebetulnya diperuntukkan bagi mereka umat Muslim yang berpuasa 6 hari di bulan Syawal setelah Idul Fitri. Namun orang yang tidak berpuasa juga tidak dilarang merayakan Lebaran Ketupat. Pada hari Lebaran Ketupat, masyarakat akan berkumpul di Masjid, Langgar dan tempat lainnya untuk membaca Yasin dan Tahlil bersama-sama. Setelah itu, masyarakat akan makan ketupat bersama-sama (biasanya disajikan dalam bentuk campur).


Namun hal aneh saat Lebaran Ketupat, pemuda-pemudi Madura justru menjadikan momen ini untuk berlibur ke tempat-tempat wisata. Pemuda-pemudi Madura memanfaatkan momen Lebaran Ketupat untuk pergi bersama pasangan (baik itu pacar maupun tunangan). Entah kebiasaan ini diajarkan oleh siapa, yang jelas hal seperti ini kurang baik untuk dijadikan kebiasaan berlanjut ke generasi muda berikutnya.


Author : Unzilatur Rahma