Ketika Ngopi Tidak Sekadar Minum Kopi

Advertisement

Ads

Ketika Ngopi Tidak Sekadar Minum Kopi

SAKERA MEDIA
Sabtu, 08 Agustus 2015

Jika Anda datang ke pelosok-pelosok desa di Madura pada pagi hari, akan terlihat banyak orang duduk di warung-warung kopi. Umumnya mereka adalah kalangan sepuh. Anak muda memang ada, tapi sedikit. Mungkin karena beda usia dan beda topik pembicaraan sehingga mereka banyak yang enggan datang ke situ.

Masyarakat Madura hingga saat ini tetap melestarikan budaya ngopi di warung-warung. Mereka menyempatkan diri datang ke warung sebelum bekerja di ladang atau sawah.

Sebenarnya, warung lebih dari sekadar tempat jual-beli atau yang lebih khusus tempat beli kopi. Bagi masyarakat Madura, warung punya makna yang cukup luas. Ia bermakna pula, salah satunya, sebagai media pertukaran informasi. Dari warung, sebuah kabar bisa didapatkan oleh sekian banyak orang.

Warung bisa memunculkan obrolan tentang berbagai topik. Pada musim Pilkada seperti saat ini, obrolan tentang para calon juga bermunculan. Bahkan, serangan fajar pun bisa dimulai dari sana. Para tim sukses tingkat desa bisa datang ke warung-warung untuk berkampanye, adu argumen, bahkan membagi-bagikan uang.

Obrolan lainnya bisa juga tentang topik hangat, semisal tampilnya Irwan di D’ Academy 2 beberapa waktu lalu. Mereka membicarakan banyak hal tentang sang idola, bahkan isu-isu dan hoax bisa muncul dari sana. Debat kusir juga sering mereka lakukan untuk hal-hal yang terkadang konyol karena minimnya informasi yang mereka dapatkan.

Ada pula yang memanfaatkan aktivitas ngopi dengan menawarkan barang-barang tertentu, misalnya akik. Saat batu akik sedang booming, banyak orang desa yang memasarkannya di warung-warung sambil ngopi. Aktivitas ngopi bisa membuat mereka lebih rileks dalam mempromosikan kualitas akik dan cara menawarkannya.

Tak hanya batu akik, benda semacam ponsel pun bisa mereka tawarkan di sana. Tentu saja ponsel yang beredar lebih banyak kualitas rendah karena pangsa pasarnya adalah masyarakat desa yang rata-rata tingkat ekonominya menengah ke bawah. Terlebih lagi, orang-orang yang ditawarinya umumnya kalangan tua yang jarang tertarik kepada ponsel pintar.

Hal lain yang tak kalah menarik dari aktivitas ngopi adalah rehat dari kerasnya kehidupan di desa. Sulitnya menghadapi kehidupan membuat mereka butuh hiburan. Salah satu dari hiburan tersebut adalah ngopi di warung-warung. Dari sana, banyolan-banyolan khas orang pinggiran hidup, mengakar dan menemukan momentumnya.