Tradisi Sya’banan di Madura, Berburu Maaf di Malam Nisfu Sya’ban

Advertisement

Ads

Tradisi Sya’banan di Madura, Berburu Maaf di Malam Nisfu Sya’ban

holili joe
Sabtu, 30 Mei 2015

eMadura.com – Bagi umat Islam, malam pertengahan bulan Sya’ban atau yang dikenal dengan malam nisfu Sya’ban merupakan salah satu malam yang istimewa. Apalagi bagi warga Madura yang dikenal memiliki rasa persaudaraan yang kental. Malam Nisfu Sya’ban ini menjadi salah satu momen untuk bersilaturrahmi dan bermaafan-maafan.

Di Madura sendiri, malam Nisfu Sya’ban dikenal dengan sebutan Sya’banan. Biasanya Masyarakat khususnya di pedesaan sudah memadati Masjid dan Mushollah menjelang Maghrib. Usai sholat Maghrib berjemaah barulah dilanjutkan dengan membaca Surah Yasiin bersama. Setelah membaca Yasiin warga mulai berhamburan untuk meminta maaf dengan sesama. Permintaan maaf ini biasanya dimulai sehabis sholat Isya kemudian masyarakat langsung saling meminta maaf dengan yang ada disekitarnya.

Aksi maaf-maafan ini tidak berhenti di Masjid atau di Mushollah saja. Akan tetapi dilanjutkan dengan berkunjung ke rumah sanak saudara. Pemandangan ini membuat jalan raya terasa jauh lebih lenggang dibanding hari biasa. Sebaliknya jalanan perkampungan dipadati warga yang hilir mudik saling bermaaf-maafan.

Selain maaf-maafan ada tradisi lain yang dilakukan oleh Masyarakat Madura khususnya pedesaan yang notabene memegang erat budaya adat dan tradisi. Salah satunya adalah memberikan beras atau sembako lainnya kepada pengurus mushollah atau Masjid untuk dijadikan sebagai konsumsi di malang Nisfu Sya’ban. Biasanya oleh pengurus Musholla atau yang dikenal dengan sebutan “Langgar” dijadikan cangkaro’, yaitu sejenis masyakan tradisional yang terbuat dari nasi yang dicampur dengan kacang hijau dan parutan kelapa. Untuk minumnya biasanya disediakan Poka’ yang juga menjadi minuman khas dari daerah Pulau Garam ini.

Akan tetapi seiring perkembangan jaman, Cangkaro’ dan Poka’ saat ini lambat laun mulai berkurang. Beberapa daerah sudah tidak lagi membagikan Cangkaro’ dan Poka’ sebagai sajian ketika Sya’banan. Namun sebagai gantinya biasanya diganti dengan makanan nasi biasa yang disajikan dengan luar biasa. Hal ini dilakukan untuk menyambut malam yang istimewa. Kendati begitu, apapun menu dan sajian ketika malam Nisfu Sya’ban bagi warga Madura hanyalah pemanis belaka di tengah indahnya kebersamaan sambil bermaaf-maafan menjelang bulan suci Romadhan yang tinggal 2 minggu lagi.