Sisi Lain di Balik Watak Keras Orang Madura

Advertisement

Ads

Sisi Lain di Balik Watak Keras Orang Madura

Aminullah
Minggu, 03 Mei 2015


Selama ini Madura selalu dikenal dengan watak kerasnya. Stereotipe buruk yang sering melekat pada Madura adalah kekerasan. Orang Madura tidak gentar untuk melakukan carok jika itu menyangkut soal harga diri. Stereotipe itu begitu melekat dan merasuk pada orang luar Madura, sehingga orang yang mengaku dirinya berdarah Madura acap kali mendapat sindiran dari orang luar yang justru kadang tidak tepat.

Melihat watak keras orang Madura melulu identik dengan adu otot rasanya tak fair juga. Dari sudut pandang yang berbeda, watak keras itu bisa bermakna positif. Dari sisi ekologis, misalnya, Kuntowijoyo dalam bukunya Madura (2002) pernah menyatakan bahwa tanah tegal yang sebagian besar mendominasi pulau Madura secara tak langsung telah membentuk masyarakatnya menjadi pribadi yang self centered (mandiri), tidak gampang menyerah (mungkin juga keras kepala), dan teguh memegang moral etis. Sebab untuk bertahan hidup, mau tak mau mereka harus bekerja keras mengolah tanahnya yang tandus agar bisa ditanami. Ini sangat jauh berbeda dengan tanah sawah yang telah membentuk kepribadian orang Jawa yang community centered, lebih lembut, dan serba mistis.

Tak jauh beda dari Kuntowijoyo, Mien A. Rifa’ie dalam buku Manusia Madura (2007) menyatakan, merepresentasikan orang Madura dengan kekerasan tidak sepenuhnya benar. Ia beralasan, apabila dikaji dari filosofi parebasan yang umumnya menjadi pedoman normatif, justru masyarakat Madura itu berkarakter ideal. Misalnya, jauh sebelum orang Madura mengenal life long education yang disosialisasikan UNESCO, mereka sudah punya semboyan abeddung pellang yang memiliki makna serupa. Sebelum mahasiswa Madura menghafal istilah hifdhul ‘ardh dalam ushul fiqh, masyarakat Madura sudah punya pote mata pote tolang.

Pandangan Kuntowijoyo dan Mien A. Rifa’ie di atas tampaknya ingin memberikan cara pandang berbeda agar orang lain melihat Madura tidak hanya soal carok belaka. Karena pada kenyataannya masih banyak dijumpai kearifan lokal yang sampai saat ini masih terus dilestarikan. Kearifan-kearifan tersebut sangat penting diangkat ke permukaan agar bisa mengimbangi atau bahkan menghilangkan pandangan negatif terhadap Madura.