Ritual Orang Madura Saat Gerhana Bulan

Advertisement

Ads

Ritual Orang Madura Saat Gerhana Bulan

SAKERA MEDIA
Sabtu, 02 Mei 2015

Gerhana bulan bagi orang Madura tidak sekadar gejala alam sebagaimana penjelasan ilmu astronomi. Lebih jauh dari itu, ada unsur mistis yang melingkupi fenomena ini. Lebih tepatnya, unsur relijius yang dibalut dengan mistis.

Pada saat terjadi gerhana bulan, orang Madura tidak hanya melaksanakan ritual keagamaan, tetapi juga ritual-ritual lain yang diyakini sejak nenek moyang mereka. Jadi, selain melakukan shalat khusuf, mereka juga memukul kentongan, memukul-mukul pohon dengan kayu, mandi air kunyit, “membangunkan” hewan peliharaan, dan lain-lain.

Semua aktivitas tersebut diyakini memiliki efek terhadap kehidupan mereka. Memukul-mukul pohon, misalnya, diyakini akan membuat pohon tersebut kelak berbuah lebat. Karena itu, umumnya pohon yang dipukul adalah pohon yang berbuah dan digunakan untuk menunjang hidup mereka, baik dimakan sendiri atau dijual.

Bagi ibu hamil, ada ritual khusus yang harus dilakukan saat terjadi gerhana bulan. Ritual itu berupa merangkak di bawah tempat tidur sambil menggigit pisau. Ritual ini diyakini akan menghindarkan anak yang dilahirkannya dari cacat fisik.

Ritual mandi air kunyit diyakini akan membuat wajah pelakunya tampan atau cantik. Ritual ini dilakukan dengan cara menyiramkan air kunyit ke seluruh tubuh. Setelah selesai mandi, wajahnya menghadap ke bulan yang sedang gerhana.

Itulah sekelumit ritual yang biasanya dilakukan oleh sebagian orang-orang Madura. Ritual-ritual tersebut di sebagian tempat masih lestari, di sebagian lainnya sudah tidak dipakai. Keyakinan terhadap ritual-ritual itu sudah ada sejak nenek moyang mereka dan masih bertahan hingga sekarang.

Ritual saat gerhana bulan hanya sedikit saja dari ritual-ritual lain yang ada sejak dahulu kala. Ia merupakan respon terhadap suatu fenomena yang terjadi dalam kehidupan mereka. Persentuhan ini merupakan interaksi masyarakat Madura dengan alam sekitarnya. Interaksi yang dibangun dengan sebuah komunikasi “mistis” berupa ritual-ritual dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

Ritual-ritual semacam ini mengalami erosi. Dari waktu ke waktu kian sedikit orang yang mau melakukannya. Hal semacam itu terjadi tidak saja di Madura, tapi juga di daerah-daerah lain yang memiliki tradisi yang sama.