Mengenal Tradisi Pelet Kandung

Advertisement

Ads

Mengenal Tradisi Pelet Kandung

SAKERA MEDIA
Jumat, 08 Mei 2015

Tradisi Pelet Kandung
Sebagai kelompok masyarakat yang dikenal agamis, orang Madura suka mengadakan acara selamatan untuk keluarganya yang sedang hamil. Dalam selamatan tersebut diisi dengan kegiatan mengaji al-Quran dan doa keselamatan untuk ibu dan si janin. Mungkin saja orang luar melakukan hal yang sama, namun tradisinya pasti berbeda.

Di sebagian daerah di Madura, acara selamatan untuk ibu hamil dilakukan sebanyak dua kali. Pertama, saat usia kandungan mencapai 3 bulan 10 hari, dan kedua ketika kehamilan si ibu memasuki 7 bulan. Mengapa dilakukan sebanyak dua kali? Karena ketika berusia 3 bulan 10 hari, jabang bayi di rahim ibu masih akan membentuk organ-organ tubuh manusia seperti tangan, telinga, kepala, dlsb. meski belum terbentuk secara sempurna.

Pada saat itu, orang Madura akan mengundang tetangga untuk acara selamatan dalam rangka mengaji ayat-ayat tertentu dalam al-Quran dan mendoakan keselamatan untuk si janin. Ayat-ayat yang dibaca biasanya Surat Yusuf, Maryam, Muhammad, Luqman, dll.

Lalu, ketika memasuki 7 bulan tepatnya pada tanggal 14 bulan hijriyah, orang Madura akan melakukan ritual pelet kandung. Dilakukan pada tanggal 14, dimaksudkan agar si janin sempurna seperti bulan purnama. Pelet kandung dilakukan saat kehamilan pertama. Pelet kandung diyakini masyarakat memiliki makna agar proses kelahiran si janin tidak mengalami banyak hambatan, menjadi anak yang shaleh/shalehah, dan sempurna secara fisik dan mental.

Dalam tradisi ini, ibu hamil akan melalui berbagai prosesi dan ritual. Awalnya, ia dipijat oleh dukun beranak. Bersamaan dengan itu, di luar ada banyak undangan tetangga yang mengaji al-Quran untuk keselamatan si janin. Di hadapan kiai yang memandu pengajian, ada semangkok air kembang, kelapa gading, nasi, kuah, dan berbagai macam kue yang diletakkan di atas talam. Setelah selesai dipijat, ibu akan keluar rumah dan duduk di kursi untuk disirami air kembang 7 rupa oleh keluarga dan orang-orang yang hadir. Air tersebut adalah air kembang yang tadi dibacakan ayat al-Quran ditambah dengan satu ember air.

Saat disirami air, si ibu akan mengelus-elus kelapa gading sambil memegang telur yang diletakkan di bawah kelapa. Kelapa tersebut diibaratkan sebagai calon bayi yang kelak akan lahir. Mengelus-elusnya menunjukkan bahwa si ibu sangat menyayangi sang anak. Bersamaan dengan itu, terdapat ayam kampung yang diikat pada kaki ibu. Setelah selesai disiram, telur yang dipegang tadi kemudian dijatuhkan ke tanah atau ditangkap keluarga yang belum memiliki keturunan.

Begitulah prosesi pelet kandung yang masih melekat dalam tradisi masyarakat Madura hingga saat ini.  semua itu diyakini agar proses persalinan ibu yang hamil menjadi mudah dan selamat.