Larangan-Larangan Bagi Suami yang Istrinya Sedang Hamil

Advertisement

Ads

Larangan-Larangan Bagi Suami yang Istrinya Sedang Hamil

Aminullah
Sabtu, 02 Mei 2015

Ilustrasi Wanita Hamil
Masing-masing daerah di nusantara ini memiliki keunikan-keunikannya tersendiri. Keunikan itu mewujud, salah satunya, dalam bentuk kepercayaan terhadap sesuatu yang khas, kepercayaan yang hanya dimiliki oleh daerah itu sendiri.

Kepercayaan ini merupakan warisan leluhur yang sudah dipraktekkan sejak lama. Dari waktu ke waktu terkadang ada erosi, tapi selalu saja ada yang masih melestarikannya. Karena itu, beberapa bentuk kepercayaan masih tetap ada hingga saat ini.

Di Madura, terdapat pula sejumlah kepercayaan yang tetap dipegang teguh hingga saat ini. Salah satunya adalah kepercayaan terhadap ada petaka jika suami melanggar beberapa hal saat istrinya sedang hamil. Kepercayaan tersebut berjalin-kelindan dengan nuansa keagamaan yang melekat dengan kehidupan orang Madura.

Umumnya, dalam tradisi Islam, suami yang istrinya sedang hamil dianjurkan untuk membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an, semisal surat Maryam, Yusuf, dan Muhammad. Dengan membaca surat Maryam diharapkan anak yang dikandung sang istri akan lahir dengan mudah. Sementara membaca surat Yusuf diharapkan anak lahir tanpa cacat. Dan, membaca surat Muhammad diharapkan anak punya akhlak yang baik, sebagaimana akhlak Rasulullah.

Orang Madura tidak hanya melaksanakan ritual keagamaan di atas. Di luar itu, ada keyakinan-keyakinan terhadap sesuatu yang jika dilanggar akan membuat proses kelahiran dan kondisi si anak akan bermasalah.

Salah satu keyakinan tersebut adalah tidak boleh membunuh ular. Jika si suami membunuh ular, maka kelak anaknya jika sudah lahir akan sering menjulur-julurkan lidahnya mirip ular. Karena itu, jika bertemu ular, sebaiknya si suami meminta bantuan orang lain untuk membunuhnya.

Keyakinan lainnya adalah tidak boleh menyiksa binatang karena akan membuat proses kelahiran si anak terganggu. Persalinan bisa cukup lama dan disertai rasa sakit di perut si istri dan bahkan bisa berakibat buruk baginya.

Selain itu, ada pula keyakinan bahwa suami tidak boleh mencukur rambutnya saat si istri sedang hamil. Jadi, meski rambut tersebut sudah panjang, si suami harus membiarkannya agar tidak berakibat kepada anak yang dikandung istrinya.

Itulah sedikit mengenai larangan bagi suami yang istrinya sedang hamil. Keyanikan-keyakinan semacam ini tentu saja sulit masuk akal karena wilayahnya memang bukan di akal, melainkan hati. Persoalan keyakinan adalah persoalan hati.