Hidup Damai dengan ‘Rampak Naong’

Advertisement

Ads

Hidup Damai dengan ‘Rampak Naong’

SAKERA MEDIA
Sabtu, 16 Mei 2015

Ilustrasi : Pohon Beringin di Keraton Sumenep
Salah satu kearifan lokal yang cukup populer di Madura adalah falsafah hidup yang menjadi pedoman orang Madura, yaitu pitutur “rampak naong, beringin korong”. Istilah ini mengacu pada pohon beringin yang merupakan pohon besar. Orang yang sedang gerah dan ingin mendapat kesejukan bisa bernaung di bawah pohon beringin ini, karena pohonnya yang besar mampu melindungi siapa pun yang berlindung dari sengatan terik matahari di siang hari.

Cobalah Anda bayangkan bagaimana rasanya berteduh di bawah pohon beringin yang besar. Pastilah Anda merasa nyaman dan segar. Anda akan merasakan semilir angin yang sejuk dan daun-daun yang meneduhkan.  Di sana tempat yang tepat bagi Anda yang ingin ngobrol santai dengan teman sambil ditemani secangkir kopi dan camilan. Rasanya tak ingin keburu beranjak dari kenyamanannya.

Istilah ‘Rampak naong beringin korong’ yang menjadi pedoman hidup ini dimaksudkan bahwa orang Madura menyukai kehidupan yang damai, tanpa kekerasan, diskriminasi, dan persengketaan. Falsafah ini tentu bisa menjadi bantahan terhadap stereotip kekerasan yang sering dialamatkan kepada orang Madura. Stereotip tersebut sudah terlanjur berkembang dan mengakar kuat sehingga seolah sulit mengubah paradigma orang luar terhadap Madura.

Jika mendengar nama Madura, orang luar sering menganggapnya sebagai lokus carok dan kekerasan lainnya. Sedangkan kearifan-kearifan lokal yang ada tampak tenggelam karena sedikitnya orang Madura yang mau peduli dan mengenalkan kearifan lokal tersebut pada orang lain. Padahal, jika mau memperhatikan dengan seksama, banyak sekali kearifan-kearifan lokal yang bisa ditemui di Madura. kearifan lokal tersebut justru kontraproduktif dengan anggapan negatif terhadap orang Madura.

Karakter keras yang tampak pada orang Madura, tidak lantas menandakan bahwa orang Madura tidak menyukai perdamaian. Buktinya, salah satu falsafah hidup yang menjadi pedoman dalam keseharian  mereka adalah ‘rampak naong beringin korong’. Dengan falsafah ini, orang Islam, Kristen, Hindu, dan lainnya bisa hidup damai berdampingan. Mereka yang kaya ataupun miskin, yang tua maupun muda, semuanya melebur dalam kedamaian tanpa memandang perbedaan kelas sosial.