Tentang Buku “Rahasia Perempuan Madura”

Advertisement

Ads

Tentang Buku “Rahasia Perempuan Madura”

SAKERA MEDIA
Sabtu, 16 Mei 2015


Selama ini orang Madura sering diasosiasikan dengan celurit dan kekerasan-kekerasan lainnya. Akibatnya, kearifan-kearifan lokal yang terdapat di dalamnya seolah tenggelam akibat menguatnya stereotip tersebut. Hal ini juga didukung oleh minimnya orang Madura yang mau peduli dan berkeinginan untuk menuliskan kearifan lokal tersebut. Sehingga yang terbayang di benak orang luar tentang Madura hanyalah soal carok belaka.

Dari yang sedikit itu, A. Dardiri Zubairi, salah seorang putra Madura yang berasal dari Gapura, mengambil peran dengan menghadirkan buku Rahasia Perempuan Madura. Jangan salah, buku setebal 127 halaman ini bukan secara keseluruhan membahas tentang rahasia perempuan Madura sebagaimana judul yang dipilih. “Rahasia Perempuan Madura” hanyalah salah satu esai yang terdapat di dalamnya. Buku ini memuat esai-esai seputar kebudayaan atau kearifan lokal Madura yang terkesan remeh temeh namun sangat penting untuk diketahui orang Madura sebagai pemilik kearifan lokal tersebut, sebab naif rasanya jika masyarakat suatu daerah tidak mengetahui kebudayaannya sendiri.

Ada empat bagian yang terdapat dalam buku ini. Bagian pertama, penulis menguraikan tentang agama dan kebudayaan Madura. Persoalan seputar agama orang Madura, pesantren, cara orang Madura menghormati guru, orang Madura yang berhasrat kuat untuk berhaji, simbol songkok, sarung, dan sebagainya penulis kupas di bagian ini.

Bagian kedua, pembaca akan disuguhi seputar kearifan lokal Madura yang variatif. Mulai dari pembahasan tellasan topa’, rampak naong, ser maleng, kopi, rokok, ayam, hingga persoalan gentong. Memang sangat sederhana, namun di sinilah sebetulnya keberhasilan penulis karena telah mampu mengangkat persoalan yang “terlupakan” dan “dilupakan” kebanyakan orang Madura. Di bagian ketiga, penulis membahas persoalan reproduksi orang Madura. Esai berjudul Rahasia Perempuan Madura yang dijadikan judul buku, penulis letakkan di bagian ini. Lalu di bagian akhir, penulis mengupas soal stereotip yang dialamatkan kepada orang Madura.

Melalui buku ini, secara tidak langsung penulis telah menyuarakan penolakan terhadap stigma buruk yang disematkan kepada orang Madura dengan cara mengenalkan kearifan lokal yang justru kontraproduktif dengan anggapan buruk yang terlanjur berkembang. Maka bagi orang Madura, sangat disayangkan jika belum membaca buku sederhana ini. Sebab, diakui atau tidak, tidak semua masyarakat daerah mengetahui kebudayaannya sendiri.


Sampul Buku "Rahasia Perempuan Madura" - Sumber Gambar : Kompasiana