Di Madura Tak Ada “Te-Satte”

Advertisement

Ads

Di Madura Tak Ada “Te-Satte”

SAKERA MEDIA
Sabtu, 16 Mei 2015


Di televisi, kita mungkin pernah melihat seorang pesohor menirukan gaya berbicara orang Madura. Mereka berbahasa Indonesia tapi dengan logat Madura. Mereka melakukan itu umumnya hanya untuk mengundang tawa penonton.

Di D’ Academy 2, saat awal-awal Irwan tampil, yang merupakan perwakilan dari Sumenep, Madura, guyonan semacam itu muncul juga. Pembawa acara bertanya-jawab ke Irwan dengan menggunakan logat Madura. Hal yang sama terjadi saat Irwan tampil bersama kawan-kawannya dari Band Vertikal, tepatnya saat pembawa acara mewawancarai Frenki, salah satu personel band.

Logat Madura di telvisi umumnya ditampilkan oleh pesohor yang tidak berdarah Madura, bahkan mungkin mereka tidak banyak tahu tentang Madura. Seandainya mereka tahu, tentu tidak akan pernah berlogat sebagaimana yang mereka lakukan saat ini. Mengapa? Karena apa yang mereka ucapkan justru tidak pernah diucapkan oleh orang Madura.

Kalau kita lihat di Madura sendiri, akan sulit menemukan orang mengucapkan kata “te-satte” (untuk kata “sate” dalam bahasa Indonesia). Mereka akan tetap mengucapkannya secara tepat sebagaimana dalam bahasa Indonesia. Sebab, pengucapan kata “te-satte” justru menyalahi kaidah bahasa Madura.

Pengulangan kata dalam bahasa Madura ada aturannya yang berpengaruh terhadap makna yang dikandungnya. Misalnya, “teng-ganteng” yang punya makna “mayoritas ganteng”. Penggunaan kata ini tidak bisa dikiaskan dengan kata “te-satte” karena maknanya akan jauh dari yang diinginkan pengucapnya.

“Te-satte” biasanya diucapkan seorang pesohor untuk menirukan tindakan seorang penjual sate dalam menawarkan dagangannya. Karena itu, sangat tidak tepat bila penggunaannya disamakan dengan pengucapan kata “teng-ganteng” karena akan bermakna “mayoritas sate”. Terasa aneh, bukan?

Nah, begitulah fakta yang terjadi di dunia televisi. Masalahnya, televisi adalah media yang paling mudah menyebarkan sesuatu ke dalam kehidupan masyarakat kita. Tindakan yang dilakukan oleh pesohor akan menjadi konsumsi publik yang bisa saja melekat menjadi sebuah kebenaran pada akhirnya. Karena itu, selayaknya ada bantahan agar kesalahan tersebut tidak terus terulang.

Kata “te-satte” saat ini mungkin sangat dikenal oleh masyarakat luar Madura. Sebagai orang Madura, kita berhak untuk mengoreksi dan membenahinya