Sapi, Sumber Perekonomian Orang Madura

Advertisement

Ads

Sapi, Sumber Perekonomian Orang Madura

SAKERA MEDIA
Jumat, 10 April 2015

Bajak Sawah - Foto : © 2014 -Saiful/EMC
Orang Madura memiliki hewan piaraan yang umumnya menjadi penunjang perekonomian. Selain menjadi sumber penghasilan, hewan piaraan juga bisa dikatakan sebagai identitas suatu daerah, katakanlah seperti sapi. Ketika mendengar kata “sapi”, daerah yang muncul dalam benak kita adalah Madura, sebab salah satu tradisi di pulau Madura adalah kerapan sapi.

Memang, salah satu hewan yang menjadi sumber penghasilan paling besar di Madura adalah sapi. Orang Madura yang tingkat ekonominya menengah ke atas biasanya akan membeli empek (anak sapi) untuk dipelahara sendiri atau epangowan (dipelihara) kepada orang lain. Dalam jangka waktu yang relatif lama, biasanya bertahun-tahun, empek tersebut akan tumbuh besar menjadi sape (sapi) yang siap untuk dijual. Dan hasilnya tentu saja menggiurkan sampai mencapai jutaan rupiah. Jarang sekali dijumpai orang Madura memelihara sapi hanya untuk dimakan sendiri. Umumnya adalah dijual.
Bagi sapi yang dipelihara sendiri, hasil penjualan sapi tentu menjadi milik sendiri. Tetapi sapi yang epangowan kepada orang lain hasilnya akan dibagi dua. Ini merupakan salah satu bentuk kerja sama orang Madura yang menguntungkan. Dalam sistem “epangowan” ini terdapat unsur tolong menolong diantara orang Madura, yaitu orang yang mampu secara materi membantu orang yang kurang mampu dengan cara mempekerjakan mereka dalam merawat sapi seperti mencari makan, memberi minum, memandikan, membersihkan kotoran, memberi jamu kesehatan, dll. yang hasil penjualan sapinya nanti akan dibagi dua.

Sebab hewan inilah, kebanyakan orang Madura sering menghabiskan waktunya di tegal untuk menyabit rumput di sela-sela kesibukannya mengurus tanaman. Biasanya, saat matahari belum genap terbit, orang Madura sudah berangkat menuju tegalnya untuk mengurus tanaman. Siang hari, mereka akan berangkat kembali ke tegal untuk menyabit rumput agar sapinya punya makanan. Semakin banyak makan, maka sapi akan tumbuh gemuk dan harga penjualannya tentu jauh lebih tinggi.

Saat musim hujan, orang Madura tidak akan kerepotan mencari rumput. Namun, saat musim kemarau, rumput sangat jarang ditemui. Di saat kondisinya seperti itu, biasanya mereka memberikan sapi makanan berupa dedaunan dari pohon-pohon yang tumbuh di pagar rumah atau di samping tegal.
Sapi nyatanya tidak hanya mendatangkan uang saat dijual. Lebih dari itu, sapi juga bisa diikutkan kontes kerapan sapi atau sape sono’ yang pemenangnya akan mendapatkan hadiah atau uang yang relatif besar. Inilah mungkin alasan mengapa orang Madura sangat tertarik memiara sapi.