Orang Tua dalam Perspektif Orang Madura

Advertisement

Ads

Orang Tua dalam Perspektif Orang Madura

SAKERA MEDIA
Minggu, 26 April 2015


Kebanyakan orang sering beranggapan bahwa orang tua adalah orang yang telah lama hidup di dunia. Pandangan semacam ini ukurannya adalah umur. Tapi benarkah kata “tua” selalu identik dengan umur? Bagi orang Madura tidak. Orang Madura punya perspektif tersendiri dalam memaknai kata “tua”. Bagi mereka, tua tak hanya diartikan sebagai tua secara umur, melainkan ada makna yang lebih substantif dari itu.

Di Madura, orang yang lebih dulu menikah dan punya anak bisa disebut dengan orang tua, meski kenyataannya umurnya masih relatif muda. Berarti jika orang tersebut punya banyak anak, tuanya bisa berkali-kali lipat. Sebenarnya tua tidak hanya diartikan seperti itu. Orang Madura menyebut seseorang sudah tua apabila orang tersebut sudah matang dan dewasa secara pikiran. Makanya orang Madura sering berpesan kepada anaknya dengan mengatakan “patowah pekkerna” (dewasakan pikiranmu).

Orang yang tua secara umur tetapi tidak secara pikiran, orang Madura tidak mengkategorikannya sebagai orang tua. Ia masih dianggap kekanak-kanakan. Jadi bagi orang Madura, tua adalah fase di mana seseorang sudah melewati kematangan dan kedewasaan berpikir. Dari kedewasaan berpikir itulah akan lahir kematangan bersikap, tidak terburu-buru mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.

Oleh karena itu, menurut A. Dardiri Zubairi dalam bukunya Rahasia Perempuan Madura, ada tiga proses yang harus dilewati seseorang untuk benar-benar bisa dikatakan tua. Bagi orang Madura, seseorang dikatakan tua apabila sudah melewati kondisi yang menyita banyak pikiran dan emosi. Di antaranya: pertama, apabila seseorang sudah menikahkan anaknya. Mereka yang sudah menikahkan anaknya pasti bercerita bagaimana ruwetnya proses menikahkan anak, mulai dari proses pertunangan sampai menikah.

Kedua, saat seseorang mampu membangun rumah sendiri. Orang yang mampu membangun rumah menunjukkan ia sudah mandiri dan tidak bergantung kepada orangtuanya lagi. Membangun rumah tidaklah mudah kecuali bagi orang yang benar-benar punya biaya cukup dan kesiapan mental untuk berpisah dari orangtuanya.

Ketiga, orang juga bisa dikatakan tua apabila ditinggal mati orangtuanya. Anak yang sudah kehilangan orangtua dengan sendirinya akan menjadi tua. Ia dituntut untuk mandiri dan dewasa, karena ia tidak punya tempat untuk merembukkan masalah hidupnya. Meski masih ada saudara, misalnya, tetapi ia tidak akan begitu terbuka sebagaimana kepada orangtuanya sendiri.

Saat orang melewati tiga fase itulah, mereka akan dihadapkan dengan situasi yang mengharuskan dirinya untuk berpikir dewasa dan matang bersikap. Di saat itulah mereka akan disebut tua. Tetapi tidak semua orang yang sudah melewati itu bisa dikatakan tua. Sebenarnya semua itu kembali lagi pada makna tua yang disebut di awal, yaitu towa pekkerna (dewasa pikirannya).